INFO EKSPRES:
- Perry Warjiyo mengakhiri sekitar tujuh tahun kepemimpinannya di Bank Indonesia.
- Destry Damayanti memimpin sementara hingga gubernur definitif ditetapkan pemerintah.
- Koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah tetap diperkuat selama masa transisi kepemimpinan.
SULBAREKSPRES.COM - Apakah pergantian enam pejabat puncak sektor keuangan dalam satu tahun hanya kebetulan, atau menandai fase besar pembenahan kelembagaan?
Bagaimana transisi kepemimpinan ini memengaruhi arah kebijakan moneter, pasar modal, dan stabilitas sistem keuangan Indonesia?
Pergantian kepemimpinan di sektor keuangan Indonesia sepanjang 2026 kembali bertambah setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.
Sebelumnya, perubahan pimpinan telah terjadi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga sedikitnya enam pejabat tinggi sektor keuangan mengakhiri masa jabatannya pada tahun ini.
Pergantian Pimpinan Sektor Keuangan Terjadi dalam Rentang 6 Bulan Beruntun
Rangkaian pergantian kepemimpinan dimulai pada Jumat, (30/Januari/2026), Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengajukan pengunduran diri kepada Presiden.
Mahendra menyebut keputusan itu merupakan tanggung jawab moral untuk mendukung pemulihan dan menjaga kepercayaan terhadap sektor jasa keuangan.
Bersamaan dengan itu, Mirza Adityaswara, Inarno Djajadi, serta I.B. Aditya Jayaantara juga mengundurkan diri dari OJK.
Pada hari yang sama, Direktur Utama BEI Iman Rachman turut meletakkan jabatan, Iman menyampaikan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal sekaligus mendukung pembenahan tata kelola BEI.
Pemerintah Siapkan Transisi Kepemimpinan Bank Indonesia Sesuai Ketentuan Undang-Undang
Hampir enam bulan kemudian, Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri pada Sabtu, (25/Juli/2026).
Pemerintah mengumumkan penerimaan surat tersebut pada Senin, (27/Juli/2026).