“Nah ini yang sekarang sering kali jadi masalah, karena kita menyaksikan di medsos, banyak sekali yang nulis itu nyebutnya Konoha, Wakanda,” kata Anies.
Anies mengaitkan penggunaan kedua istilah tersebut dengan kecenderungan masyarakat melakukan penyensoran diri ketika menyampaikan kritik secara terbuka.
Namun, pandangan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari pihak lain yang menilai masyarakat Indonesia tetap memiliki ruang menyampaikan kritik.
Ketua DPP PPP Achmad Baidowi ketika itu membantah analogi Anies mengenai Konoha dan kondisi kebebasan kritik di Indonesia.
“Analoginya ndak tepat, karena faktanya banyak yang bisa melalukan kritik terhadap pemerintah,” kata Achmad Baidowi kepada wartawan.
Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa “Konoha” tidak memiliki satu makna politik yang mutlak dan dapat ditafsirkan berbeda.
Makna Konoha Kini Lebih Luas Daripada Sekadar Candaan Budaya Populer
Penggunaan Konoha pada akhirnya mencerminkan kemampuan budaya populer melahirkan bahasa baru dalam percakapan masyarakat.
Istilah tersebut dapat digunakan sebagai lelucon, sindiran, kritik, maupun cara menyamarkan identitas negara dalam pembahasan tertentu.
Kesamaan jumlah pemimpin Konoha dan Indonesia juga kerap digunakan sebagai bahan cocoklogi dalam menjelaskan popularitas julukan tersebut.
Konoha dalam cerita Naruto memiliki Hokage sebagai pemimpin, sedangkan Indonesia memiliki presiden sebagai kepala negara.
Sejumlah pemberitaan bahkan mengaitkan tujuh Hokage dengan tujuh presiden Indonesia yang telah memimpin hingga periode tertentu.
Meski demikian, kemiripan tersebut merupakan interpretasi populer dan bukan bukti sejarah mengenai asal-usul istilah Konoha.