"Nah, untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino Kuat. Jadi kita perlu mengantisipasinya," kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
BMKG juga menyampaikan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral.
Baca Juga: Bursa Calon Gubernur BI Menghangat, Purbaya Yudhi Sadewa Pilih Menunggu Keputusan Resmi Presiden
Namun, IOD diprakirakan berkembang menuju fase positif selama September hingga Desember 2026.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dengan persentase 48,84 persen wilayah Indonesia.
Sementara itu, sekitar 25,41 persen wilayah diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.
Presiden Instruksikan Mitigasi Air dan Pencegahan Karhutla Secara Terpadu Nasional
Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh kementerian dan lembaga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino.
Arahan tersebut menitikberatkan pada pengamanan cadangan air dan pencegahan kebakaran hutan serta lahan.
Menindaklanjuti arahan itu, BMKG menyiapkan dua fokus utama mitigasi nasional.
"Antisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino di tahun ini ada dua fokus utama."
"Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya."
"Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar," ujar Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Baca Juga: Mengapa Bank Dunia Mendorong Penurunan Ambang PKP Menjadi Rp500 Juta untuk Reformasi Pajak Indonesia