ekonomi

BMKG Peringatkan El Nino 2026 Berpotensi Sangat Kuat, Simak Dampaknya Terhadap Pangan, Air dan Energi

Kamis, 30 Juli 2026 | 16:07 WIB
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pengelolaan waduk berbasis prakiraan cuaca penting untuk menjaga pasokan air dan listrik nasional. (Dok. bmkg.go.id)

INFO EKSPRES:

  • BMKG meminta seluruh pemangku kepentingan memperkuat mitigasi menghadapi musim kemarau lebih panjang akibat El Nino.
  • Pengisian waduk dan pembasahan gambut menjadi fokus utama pemerintah dalam mengurangi dampak kemarau ekstrem.
  • Sektor pangan, energi, kesehatan, dan ekonomi disiapkan menghadapi dampak El Nino 2026 secara terpadu.

SULBAREKSPRES.COM - Apakah Indonesia siap menghadapi ancaman El Nino 2026 yang diprediksi semakin kuat?

Mampukah langkah mitigasi pemerintah menekan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap pangan, energi, dan kesehatan masyarakat ketika musim kemarau mencapai puncaknya?

BMKG: El Nino 2026 Berpotensi Sangat Kuat, Pemerintah Percepat Mitigasi Kemarau dan Karhutla

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi berkembang menjadi sangat kuat.

Baca Juga: Lebih dari 2 Juta Penumpang Padati Stasiun Semarang Tawang, Tepat Waktu Terjaga Sepanjang Semester Pertama 2026

Kondisi tersebut diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan terhadap sektor pangan, energi, kesehatan, dan ekonomi menjadi perhatian pemerintah.

Peringatan itu disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat terbatas mengenai Penanganan Cuaca Ekstrem dan Penanganan Bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, (28/Juli/2026).

Baca Juga: Kasus Suhardiman Amby Berlanjut, KPK Pastikan Pengembalian Uang Raja Juli Antoni Sudah Lengkap Semua atau Belum

BMKG Prediksi El Nino Memicu Kemarau Lebih Panjang dan Kering Nasional

BMKG menjelaskan El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius.

Menurut hasil pemantauan, kondisi tersebut kini telah berada pada kategori El Nino kuat.

"El Nino itu terjadi ketika suhu di permukaan laut, tepatnya di tengah Samudra Pasifik, naik lebih tinggi dari 0,5 derajat Celsius."

Baca Juga: Transformasi BRIvolution Reignite Dorong Kinerja Keuangan BRI Semakin Solid dan Perkuat Pembiayaan UMKM

"Jika sudah melewati batas itu, kita mengatakan sudah masuk dalam kondisi El Nino aktif."

Halaman:

Tags

Terkini