Didik Rachbini Ungkap Tantangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pentingnya Ekspor Berorientasi Global

photo author
Tim Sulbar Ekspres, Sulbarekspres.com
- Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45 WIB
Target pertumbuhan ekonomi 7-8 persen membutuhkan perubahan strategi. Didik J Rachbini menilai ekspor, investasi, dan industri berbasis sumber daya nasional harus diperkuat. (Dok Kreasi Dola AI)
Target pertumbuhan ekonomi 7-8 persen membutuhkan perubahan strategi. Didik J Rachbini menilai ekspor, investasi, dan industri berbasis sumber daya nasional harus diperkuat. (Dok Kreasi Dola AI)

Karena itu, kebijakan ekonomi dinilai perlu bergeser menuju orientasi ekspor dengan memperkuat daya saing industri dan penetrasi pasar internasional.

Orientasi tersebut diharapkan mampu menarik investasi asing langsung sekaligus mendorong investasi domestik melalui integrasi dengan rantai pasok global.

Baca Juga: Ma’ruf Amin Bicara Tambang NU, Ingatkan Perebutan Konsesi Bisa Ganggu Persatuan dan Kemaslahatan Umat

Investasi Asing Dan Industri Berbasis Sumber Daya Perlu Diperkuat

Didik menilai perubahan orientasi kebijakan dapat menciptakan sistem insentif yang lebih menarik bagi investasi asing dan domestik.

Menurut dia, dukungan infrastruktur serta birokrasi yang ramah dan efisien menjadi bagian penting untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif.

Investasi yang masuk kemudian diharapkan memperkuat industri berbasis sumber daya nasional atau resource based industry.

Baca Juga: Registrasi UMKM Jadi Kunci Integrasi Data Pajak, Luhut Soroti Celah Penghindaran Kewajiban Perpajakan Usaha

Bank Dunia juga mencatat bahwa ekspor dan investasi menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan, sementara tekanan eksternal masih menjadi tantangan ekonomi Indonesia pada 2026.

Pengalaman Indonesia pada dekade 1980-an dinilai Didik dapat menjadi salah satu rujukan ketika pemerintah kembali mendorong kebijakan ekonomi berorientasi ekspor.

Pasar Domestik Besar Belum Cukup Untuk Industrialisasi Berkelas Dunia

Didik mengakui jumlah penduduk Indonesia memberikan keunggulan berupa pasar domestik yang besar bagi aktivitas ekonomi nasional.

Baca Juga: Bursa Gubernur BI Memanas, Destry Damayanti Masuk Pertimbangan Prabowo Bersama Sejumlah Nama Lain

Namun, menurut dia, pasar domestik saja tidak cukup untuk mendorong dunia usaha Indonesia naik kelas dan membangun industri berdaya saing global.

Ia menilai pelaku usaha perlu memperoleh kesempatan sekaligus tekanan kompetitif untuk memasuki pasar internasional dan meningkatkan produktivitas.

Pengalaman kebijakan pada era 1980-an disebut sebagai contoh ketika deregulasi dan orientasi ekspor membantu diversifikasi ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Pemadaman Listrik Kalimantan Tengah Belum Tuntas, GPG Minta DPR RI Evaluasi Kinerja Jajaran PLN Setempat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X