Sebagian Tentara Afrika Memilih Menetap dan Berkeluarga di Pulau Jawa
Tidak seluruh tentara Afrika kembali ke tanah kelahirannya setelah masa dinas berakhir, sebagian memilih menetap di Hindia Belanda dan menikah dengan perempuan lokal.
Komunitas keturunan mereka kemudian berkembang di sejumlah kota garnisun seperti Purworejo, Magelang, Semarang, dan Yogyakarta.
Penelitian African Studies Centre Leiden menunjukkan keturunan mereka kini tersebar di Indonesia, Belanda, dan Ghana sebagai bagian dari sejarah diaspora kolonial.
Keberadaan komunitas tersebut menjadi bukti bahwa kolonialisme juga membentuk jaringan migrasi lintas benua yang jarang dibahas dalam sejarah Indonesia.
Makna Londo Ireng Berubah Setelah Indonesia Meraih Kemerdekaan Nasional
Seiring berakhirnya kolonialisme, istilah "londo ireng" mengalami perubahan makna dalam kehidupan masyarakat.
Istilah yang semula merujuk kepada tentara Afrika anggota KNIL kemudian berkembang menjadi ungkapan bagi orang yang dianggap membela kepentingan asing.
Baca Juga: Gerindra Bantah Spekulasi Hubungan Prabowo dan Gibran, Istana Sebut Tata Letak Sidang Hanya Teknis
Perubahan tersebut muncul dalam berbagai karya sastra, budaya populer, hingga percakapan sehari-hari.
Para ahli menyebut fenomena itu sebagai pergeseran makna (semantic shift) karena sebuah istilah historis berubah menjadi metafora sosial dan politik.
Merujuk pada penelitian Ineke van Kessel dan African Studies Centre Leiden, pemahaman terhadap asal-usul "londo ireng" menjadi penting.
Baca Juga: DJBC Evaluasi Sistem Pengawasan Setelah BPK Temukan Piutang Negara Belum Tertagih Optimal
Agar masyarakat dapat membedakan antara fakta sejarah dan perkembangan makna yang terjadi setelah Indonesia merdeka.****