INFO EKSPRES:
- Indonesia menjadi tujuan ekspansi Georgetown karena peluang riset kebijakan publik yang dinilai sangat besar.
- Lapangan kerja bagi generasi muda menjadi isu utama yang membutuhkan kolaborasi investasi dan pendidikan berkualitas.
- MagangHub 2026 resmi membuka pemilihan lowongan bagi peserta yang memenuhi persyaratan mulai 16 Juli 2026.
SULBAREKSPRES.COM - Pagi ini saya bertemu dengan Prof. , rektor Georgetown University School of Foreign Service (SFS) Asia PaciYuhki Tajimafic di Jakarta.
Georgetown bukan universitas biasa. School of Foreign Service-nya selama puluhan tahun dikenal sebagai sekolah hubungan internasional dan kebijakan publik terbaik di dunia.
Saya bertanya kepadanya, mengapa Georgetown memilih membuka kampus di Indonesia? Bukankah banyak negara lebih kaya yang mampu membayar mahal agar universitas kelas dunia hadir di negaranya?
Jawaban Prof. Yuhki sangat menarik.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki dua hal yang sangat dicari akademisi dunia: skala yang besar dan persoalan kronis yang sangat banyak.
Indonesia dengan lebih dari 280 juta penduduk adalah laboratorium kebijakan publik yang luar biasa. Di Indonesia, setiap solusi yang berhasil dapat mengubah kehidupan jutaan orang.
Justru karena masalahnya banyak — mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, produktivitas, ketahanan pangan, hingga penciptaan lapangan kerja — Indonesia menjadi tempat yang ideal untuk menghasilkan riset yang benar-benar berdampak.
Pagi ini saya juga menyerahkan buku Presiden Solusi (Problem Solver) untuk menjadi koleksi Perpustakaan Georgetown University.
Buku tersebut mendokumentasikan puluhan persoalan kronis Indonesia beserta berbagai solusi yang diputuskan oleh Presiden Prabowo.
Saya kemudian menyadari, isi buku saya ini sebenarnya menjelaskan mengapa Georgetown datang ke Jakarta.
Artikel Terkait
Legenda Samba Paria Asal Sulbar Ungkap Perjuangan Gadis Mandar Melawan Raja Kejam demi Keluarga dan Rakyat
Menhut Raja Juli Antoni menjadi sorotan setelah melaporkan dan mengembalikan amplop, sementara KPK menyita SGD12 ribu dalam penyidikan dugaan gratifik
Richard Lee Sebut Penghentian Obat Keras Berisiko, Hakim Minta Dokumen Medis Sebelum Ambil Keputusan Penahanan
Mengapa KH Yahya Cholil Staquf Kembali Maju Pada Muktamar NU Ke-35? Ini Alasan dan Target Utamanya
Mengapa FBI Ikut dalam Kasus Febrie Adriansyah, Polri Jelaskan Pemeriksaan Dolar AS dan Barang Bukti Korupsi
SapuLangit Media Dorong Literasi Budaya Lewat Rubrik Cerita Rakyat yang Angkat Legenda Lokal dari Berbagai Daerah
Stimulus Rp110,7 Triliun dan APBN 2025 Diklaim Jaga Daya Beli, Seberapa Besar Dampaknya Bagi Masyarakat
Mengapa Isu Aisyah Zakiyyah dan Dody Hanggodo Ramai Dibahas? Simak Fakta Lengkap Pengangkatan Komisaris PT PP
Pailit PT DPS Jadi Momentum Pembenahan bagi Industri Galangan Kapal Nasional, Ini Respons Para Pengusaha
Purbaya Sebut Reformasi DJP Berhasil, Penerimaan Pajak Tumbuh 24,6 Persen Pada Semester Pertama Tahun 2026