3. Ekspansi dapur baru di wilayah yang telah padat dihentikan sementara, kecuali di kawasan 3T.
4. Bu Nanik juga menemukan 414 SPPG yang belum beroperasi, tetapi telah menerima pencairan anggaran atau memiliki rekening virtual ganda. Ratusan miliar Rupiah dikembalikan ke kas negara.
5. Bu Nanik bentuk sebelas tim reformasi total. Ia pimpin upaya refocusing MBG agar lebih menyasar balita, ibu hamil, ibu menyusui, anak SD dan SMP, serta siswa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
6. Kemarin ia juga mengganti lima pejabat eselon I dengan tenaga profesional dari Kementerian Kesehatan, Kemendikdasmen, Kementerian Keuangan, BPKP, dan Kejaksaan.
Semua itu dilakukan karena Bu Nanik memahami keyakinan Presiden: MBG adalah investasi untuk anak-anak kelak akan menentukan masa depan Republik.
Baca Juga: DJBC Evaluasi Sistem Pengawasan Setelah BPK Temukan Piutang Negara Belum Tertagih Optimal
Ia juga melihat sendiri bagaimana MBG menghidupkan ekonomi rakyat. Ketika program berhenti selama tiga minggu libur sekolah, petani dan peternak mengeluh hasil produksinya tidak terserap. Pedagang pasar harus membuang sayur dan buah karena kehilangan pembeli.
Dari sana terlihat bahwa satu porsi MBG bukan hanya mengisi perut seorang anak. Di belakang MBG ada penghasilan petani, peternak, nelayan, pedagang, koperasi, UMKM, dan keluarga-keluarga Indonesia.
Dulu saya menulis tentang sepatu kets Bu Nanik. Sepatu sederhana yang dipakainya untuk mendatangi dapur, meninjau sekolah, memeriksa kebersihan, dan bahkan menerima penghargaan di Istana Negara.
Hari ini, ibu bersepatu kets itu pamit untuk berhenti sejenak.
Presiden meminta Bu Nanik tetap mengawasi BGN. Bu Nanik sendiri bergurau, ia tidak sabar untuk kembali bisa “mencereweti” dan “menjewer” jika ada yang menyimpang.
Begitulah Bu Nanik. Bahkan ketika sedang sakit, yang dipikirkannya tetap pekerjaan, Presiden, rakyat, dan anak-anak Indonesia.