Indonesia pun memperoleh tempat yang istimewa. Ada buku-buku seperti Java in a Time of Revolution, Java: A History, The Indonesian National Revolution, The Indonesia Reader, Indonesian Etc., Nathaniel’s Nutmeg, dan A History of Modern Indonesia berdiri berdampingan.
Seolah mengingatkan bahwa memahami Indonesia berarti memahami perjalanan panjang bangsa ini sejak masa kerajaan, kolonialisme, revolusi, hingga menjadi negara modern.
Salah satu bagian paling mengesankan di perpustakaan ini adalah koleksi sejarah perang.
Di rak-raknya berjajar The Guns of August, The Sleepwalkers, Paris 1919, The Great War, The First World War, Battle Cry of Freedom, trilogi The Civil War karya Shelby Foote, Gettysburg, Grant, Lincoln, The Rise and Fall of the Third Reich.
Juga ada The Longest Day, A Bridge Too Far, Citizen Soldiers, An Army at Dawn, World War II, The Liberation Trilogy, Vietnam: A History, A Bright Shining Lie, Dispatches, hingga Embers of War.
Buku-buku itu bukan sekadar menceritakan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka berbicara tentang bagaimana pemimpin mengambil keputusan ketika semua pilihan sama-sama buruk.
Bagaimana logistik menentukan nasib sebuah bangsa; bagaimana moral pasukan sering kali lebih penting daripada jumlah tentaranya; dan bagaimana kesalahan kecil dapat mengubah arah sejarah dunia.
Seperti ditulis Barbara Tuchman dalam The Guns of August:
Baca Juga: Rumah Dijaga TNI, Profil Febrie Adriansyah dan Rekam Jejak Jampidsus Kejagung Jadi Sorotan Publik
"Human beings, like plans, prove fallible in the presence of danger, death, and live ammunition.”
Kalimat-kalimat seperti itulah yang memenuhi rak-rak Hambalang — pengingat bahwa sejarah bukan hanya kisah masa lalu, tetapi guru yang paling jujur bagi para pemimpin.
Namun koleksi perpustakaan pribadi Presiden Prabowo tidak berhenti pada sejarah.
Artikel Terkait
Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Harga CPO Berpotensi Menguat Lewat Implementasi B50, GAPKI Ingatkan Risiko Kenaikan Pungutan Ekspor
Mengapa Agrinas Dipercaya Kelola Sawit 400 Ribu Hektare untuk Mendukung Target Swasembada Pangan dan Energi
Rumah Dijaga TNI, Profil Febrie Adriansyah dan Rekam Jejak Jampidsus Kejagung Jadi Sorotan Publik
Pengunduran Diri Febrie Adriansyah Diterima Jaksa Agung, Bagaimana Nasib Penanganan Kasus Korupsi Selanjutnya
Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Manajemen Kas Negara Kini Jadi Motor Baru Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
Pidato Prabowo tentang Amanat Rakyat dan Pemberantasan Korupsi Jadi Sorotan, Ini Pesan Penting bagi Aparatur
Komisi III DPR Pastikan Penegakan Hukum Tidak Terhenti Setelah Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus
Kasus Febrie Adriansyah Berkembang, 2 Tersangka Ditetapkan dan Aset Bernilai Fantastis Disita Penyidik
Mengapa KPK Menyita SGD12 Ribu dalam Kasus Alih Fungsi Hutan, Ini Fakta Penyidikan Terbaru yang Terungkap