INFO EKSPRES:
- Perpustakaan Hambalang memuat koleksi karya tokoh dunia dari Plato hingga Ibn Khaldun serta berbagai penulis modern.
- Koleksi sejarah Indonesia berdampingan dengan buku perang, diplomasi, sains, ekonomi politik, hingga kuliner dunia.
- Narasi menempatkan perpustakaan sebagai ruang yang mempertemukan gagasan sejarah, budaya, dan kepemimpinan nasional.
SULBAREKSPRES.COM - Ada banyak cara mengenal seorang pemimpin. Sebagian orang melihat pidatonya. Sebagian lagi melihat kebijakan yang diambilnya. Namun ada cara yang sering kali lebih jujur daripada semua itu: melihat buku-buku yang ia baca.
Di Hambalang, terdapat sebuah ruangan yang mungkin menjadi jantung intelektual Presiden Prabowo Subianto: perpustakaan dua lantai pribadi beliau.
Di ruangan inilah ia bekerja. Di ruangan inilah ia menerima tamu negara, berdiskusi dengan para menteri, membaca laporan, menyusun gagasan, menikmati waktu istirahat, bahkan makan siang dan makan malam.
Perpustakaan ini sekaligus menjadi ruang kantor, ruang rapat, ruang makan, dan ruang kontemplasi. Boleh dikatakan, perpustakaan ini adalah nerve center kediaman pribadi beliau di Hambalang.
Kecintaan Itu Bukan Sesuatu yang Muncul Tiba-tiba
Pada tahun 1968, ketika masih bersekolah di American School in London, Prabowo merupakan satu-satunya murid berkulit cokelat di sekolah tersebut.
Di lingkungan yang sangat kompetitif itu, ia justru dipercaya menjadi ketua tim debat sekolah. Ia juga menjadi kapten tim sepak bola sekaligus editor majalah dinding sekolahnya.
Tiga peran yang tampaknya berbeda itu sesungguhnya memiliki satu benang merah: kemampuan berpikir, memimpin, dan berkomunikasi. Perpustakaan Hambalang hari ini seolah menjadi kelanjutan alami dari tradisi intelektual yang telah tumbuh sejak masa remajanya.
Bagi saya, rak-rak perpustakaan pribadi Prabowo Subianto di Hambalang seperti sebuah peta besar perjalanan peradaban manusia.
Di sana kita menemukan buku-buku seperti Ghost Empire, SPQR, Ancient Egypt, Classical Greece, Crusades, The Great Plague, Renaissance World, hingga The Fall of the Ottomans.
Ada The Plantagenets, Royal Stuarts, The Victorians, Louis XIV, Napoleon, dan Wellington. Rak lain dipenuhi buku-buku tentang Rusia, Tiongkok, Jepang, India, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara — seolah seluruh peradaban dunia berkumpul dalam satu ruangan.
Artikel Terkait
Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Harga CPO Berpotensi Menguat Lewat Implementasi B50, GAPKI Ingatkan Risiko Kenaikan Pungutan Ekspor
Mengapa Agrinas Dipercaya Kelola Sawit 400 Ribu Hektare untuk Mendukung Target Swasembada Pangan dan Energi
Rumah Dijaga TNI, Profil Febrie Adriansyah dan Rekam Jejak Jampidsus Kejagung Jadi Sorotan Publik
Pengunduran Diri Febrie Adriansyah Diterima Jaksa Agung, Bagaimana Nasib Penanganan Kasus Korupsi Selanjutnya
Purbaya Yudhi Sadewa Ungkap Manajemen Kas Negara Kini Jadi Motor Baru Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
Pidato Prabowo tentang Amanat Rakyat dan Pemberantasan Korupsi Jadi Sorotan, Ini Pesan Penting bagi Aparatur
Komisi III DPR Pastikan Penegakan Hukum Tidak Terhenti Setelah Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus
Kasus Febrie Adriansyah Berkembang, 2 Tersangka Ditetapkan dan Aset Bernilai Fantastis Disita Penyidik
Mengapa KPK Menyita SGD12 Ribu dalam Kasus Alih Fungsi Hutan, Ini Fakta Penyidikan Terbaru yang Terungkap