INFO EKSPRES:
- Kenaikan pungutan ekspor dikhawatirkan mengurangi manfaat ekonomi B50 bagi petani melalui penurunan harga TBS.
- Pemerintah diharapkan menjaga keseimbangan antara target energi nasional dan keberlanjutan industri sawit.
- GAPKI menyebut peluang kenaikan harga CPO terbuka selama kebijakan fiskal tidak membebani sektor sawit.
AGRO 24 JAM - Apakah implementasi biodiesel B50 benar-benar akan meningkatkan kesejahteraan petani sawit atau justru memunculkan beban baru akibat kebijakan fiskal pemerintah?
Mengapa optimisme pelaku industri terhadap kenaikan harga CPO masih dibayangi kekhawatiran mengenai kenaikan pungutan ekspor yang berpotensi menekan harga tandan buah segar?
Implementasi B50 Diproyeksikan Mengerek Harga CPO dan TBS Petani Nasional
Implementasi B50 dinilai berpotensi meningkatkan harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar domestik.
Baca Juga: Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Kenaikan tersebut diperkirakan ikut mendorong harga tandan buah segar atau TBS yang diterima petani.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menilai pengurangan ekspor justru memperketat pasokan minyak nabati dunia.
"Kalau implementasi B50 menyebabkan ekspor berkurang, yang terjadi justru kenaikan harga minyak nabati dunia termasuk minyak sawit apabila suplai minyak nabati lain stagnan atau berkurang," kata Eddy Martono, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia menambahkan kenaikan harga minyak sawit global akan memberikan sentimen positif terhadap harga CPO dalam negeri.
"Eddy Martono mengatakan, "Ini justru akan meningkatkan harga CPO dalam negeri, ujung-ujungnya harga TBS petani juga akan naik."
Pengurangan Ekspor Dinilai Memperketat Pasokan Minyak Nabati Pasar Dunia Secara Bertahap
Program B50 diperkirakan mengalihkan sekitar 13 juta hingga 20 juta ton CPO dari pasar ekspor ke kebutuhan domestik.
Volume tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut GAPKI, berkurangnya pasokan ekspor dapat mendorong kenaikan harga minyak nabati apabila produksi kedelai, bunga matahari, dan rapeseed tidak meningkat.
Artikel Terkait
Rapat Panitia Munas VIII PSMTI Bahas Kesiapan Akhir, Pengurus Pusat dan Daerah Perkuat Sinergi Organisasi
Belanja Negara Melampaui Target, Defisit APBN 2026 Meningkat Meski Pemerintah Tetap Optimistis Mengendalikannya
Brankas Rahasia di Cafe De'Clan Berisi Rp60 Miliar, Polisi Dalami Aliran Dana Dan Kepemilikan Aset Dugaan Korupsi
Mengapa Laba BTN Melonjak Lebih dari 54 Persen Saat Industri Perbankan Hadapi Berbagai Tantangan Ekonomi
OJK Tegaskan Tak Berhenti Memburu Henry Surya, Penyitaan Aset Jadi Kunci Pemulihan Dana Pemegang Polis
IMF Pertahankan Proyeksi Ekonomi Indonesia 5 Persen, Mampukah Target APBN 2026 Tercapai di Tengah Risiko Global
Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Kasus BSI Anambas Masuk Pengadilan, Dugaan Dana Pelunasan Rp2,8 Miliar Terungkap Lewat Pengajuan Kredit
Putri William Soeryadjaya Tinggalkan Kursi Komisaris Saratoga Setelah Mengawal Korporasi Hampir 3 Dekade
Krisis PT Gunbuster Nickel Industry GNI Berlanjut, PHK 1.800 Pekerja Diiringi Harapan Investor Baru Segera Masuk