Bahlil juga menyoroti struktur pembiayaan karena banyak investor hilirisasi berasal dari luar negeri.
“Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara,” kata Bahlil.
Ia menilai penguatan kelembagaan menjadi faktor penting dengan merujuk pengalaman Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.
Manfaat Hilirisasi Ditargetkan Menyebar dari Pusat hingga Daerah Penghasil Mineral
Pemerintah memiliki alasan ekonomi untuk mempertahankan pengolahan mineral di dalam negeri karena proses tersebut dapat meningkatkan nilai tambah.
Selain nilai tambah, Bahlil menyebut hilirisasi berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pengalaman pembangunan smelter sebelumnya juga menunjukkan pemerintah menempatkan pengolahan mineral sebagai bagian penting transformasi Indonesia menuju negara industri.
Baca Juga: Kepala BGN Sudaryono Terapkan Zero Tolerance dengan Copot 137 Kepala SPPG dalam Evaluasi Program MBG
Kementerian ESDM sebelumnya mencatat pembangunan fasilitas pemurnian terus didorong sebagai pelaksanaan kewajiban pengolahan mineral sesuai ketentuan pertambangan.
Namun, peningkatan investasi juga membawa tantangan agar kapasitas pengolahan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas semata.
Pemerintah perlu memastikan pembiayaan, teknologi, tenaga kerja, dan keterkaitan industri domestik berkembang seiring bertambahnya investasi hilirisasi.
Investasi Hilirisasi Capai Rp152,7 Triliun dan Sumbang Sepertiga Investasi Nasional
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 5,7 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya dan menyumbang 29,8 persen investasi nasional.
Pada periode tersebut, total realisasi investasi nasional mencapai Rp511,8 triliun.