Larangan Ekspor Bauksit dan Tembaga Jadi Strategi Hilirisasi Nasional Indonesia
Di tengah kenaikan investasi tersebut, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan membuka kembali ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga.
“Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga,” ujar Bahlil.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan sikap tersebut seusai acara Peluncuran dan Bedah Buku “10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia” di Jakarta, Jumat, (07/08/2026).
Menurut Bahlil, larangan ekspor diperlukan untuk mendorong tumbuhnya industri pengolahan bauksit dan tembaga di dalam negeri.
“Memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri di dalam negeri,” ujar Bahlil.
Arah kebijakan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah sebelumnya yang mewajibkan pengolahan mineral domestik untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Danantara Disiapkan untuk Membiayai Hilirisasi Saat Bank Nasional Masih Enggan
Bahlil menilai hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun smelter karena persoalan kepemilikan, pembiayaan, dan manfaat ekonomi juga perlu diperhatikan.
Ia mendorong hilirisasi menjadi instrumen agar Indonesia dapat menjadi “tuan di negeri sendiri” dalam mengelola sumber daya alam.
Gagasan tersebut juga menjadi tema dalam buku “Tuan di Negeri Sendiri” yang ditulis Bahlil untuk membahas persoalan kelembagaan hilirisasi.
Menurut Bahlil, aktivitas hilirisasi memang berlangsung di berbagai daerah, tetapi manfaatnya dinilai belum sepenuhnya dirasakan daerah penghasil.
Ia menyebut sebagian keuntungan masih lebih banyak dirasakan pemerintah pusat dan investor yang terlibat dalam proyek hilirisasi.