Kemendag Hubungkan Daerah Surplus dan Kekurangan Pasokan Telur Ayam Melalui Business Matching Antarwilayah

photo author
Tim Sulbar Ekspres, Sulbarekspres.com
- Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:44 WIB
Mendag Budi Santoso mengungkap strategi pemerintah menjaga penyerapan produk peternak melalui SPHP pakan, program MBG, serta penguatan distribusi antarwilayah. (Dok. kemendag.go.id)
Mendag Budi Santoso mengungkap strategi pemerintah menjaga penyerapan produk peternak melalui SPHP pakan, program MBG, serta penguatan distribusi antarwilayah. (Dok. kemendag.go.id)

Dengan demikian, kesinambungan penyerapan menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi, permintaan, dan harga.

Baca Juga: Airlangga Hartarto.Ungkap Potensi 153 Ton Emas Pegadaian untuk Memperkuat Pasar ETF Emas Indonesia ke Depan

Distribusi Surplus ke Timur Jadi Fokus Business Matching Pemerintah

Selain memperkuat permintaan, Kementerian Perdagangan menjalankan business matching antardaerah untuk mempertemukan wilayah surplus dengan daerah yang kekurangan pasokan.

Langkah tersebut terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di wilayah Indonesia bagian timur.

“Dari beberapa hari yang lalu kita sudah melakukan business matching antarwilayah,” ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Baca Juga: Calon Gubernur BI Destry Damayanti Resmi Diajukan Prabowo, DPR Segera Mengumumkan dan Proses Pencalonannya

Budi mengatakan pertemuan pelaku usaha dari sejumlah daerah telah dilakukan beberapa kali melalui pertemuan daring.

“Kita ingin menyuplai dari yang daerah surplus ini ke daerah yang kurang ya, artinya kurang pasokannya, terutama di wilayah timur,” katanya.

Pemerintah berharap distribusi dari daerah surplus segera terealisasi sehingga produk tidak menumpuk di sentra produksi.

Baca Juga: Danantara Housing Expo 2026 Hadirkan Hunian MBR dan Non-MBR, BRI Perkuat Pilihan Pembiayaan KPR Masyarakat Indonesia

Harga Telur Nasional Rp26 Ribu, Masih di Bawah HET

Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, harga rata-rata nasional telur saat ini berada sekitar Rp26.000 per kilogram.

Angka tersebut masih berada di bawah HET telur sebesar Rp30.000 per kilogram di tingkat konsumen.

Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan berbeda antara harga di tingkat peternak, distribusi, dan harga yang dibayar konsumen.

Baca Juga: Juda Agung Soroti Kebutuhan Investasi 2027, Swasta Diproyeksikan Topang Rp7.973 Triliun Pembiayaan

Sebelumnya, pemerintah menetapkan harga acuan pembelian telur sebesar Rp24.000 per kilogram dan ayam hidup minimal Rp19.500 per kilogram di tingkat peternak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X