INFO EKSPRES:
- Pemerintah memperkuat likuiditas perbankan melalui penempatan dana negara senilai Rp400 triliun.
- Kebijakan dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi saat aktivitas melambat pada pertengahan 2026.
- Optimalisasi cash management diproyeksikan melengkapi efektivitas kebijakan fiskal nasional.
SULBAREKSPRES.COM - Mengapa pemerintah memindahkan ratusan triliun rupiah ke perbankan di tengah perlambatan ekonomi?
Benarkah pengelolaan kas negara kini menjadi senjata baru untuk mempercepat pertumbuhan tanpa hanya mengandalkan belanja APBN?
Purbaya Ungkap Strategi Baru Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pemerintah mulai mengandalkan pengelolaan kas negara sebagai instrumen baru untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Strategi tersebut dinilai mampu menggerakkan aktivitas ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan belanja negara semata.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, belanja pemerintah selama ini hanya menyumbang sekitar 7-10 persen terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Menurutnya, sekitar 90 persen pergerakan ekonomi berasal dari sektor swasta sehingga diperlukan kebijakan yang mampu memperkuat likuiditas dan pembiayaan.
Baca Juga: Rumah Dijaga TNI, Profil Febrie Adriansyah dan Rekam Jejak Jampidsus Kejagung Jadi Sorotan Publik
"Saya perhatikan bahwa manajemen cash, manajemen uang pemerintah bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan."
"Itu bisa menghidupkan yang 90% ekonomi selain belanja langsung yang 7-10%," kata Purbaya Yudhi Sadewa saat kuliah umum di Politeknik Keuangan Negara STAN, Tangerang Selatan, Jumat, 10 Juli 2026.
Penempatan Dana Negara Perkuat Likuiditas Perbankan Nasional Secara Signifikan
Langkah tersebut diwujudkan melalui penempatan dana pemerintah yang sebelumnya berada di Bank Indonesia ke sistem perbankan nasional.
Baca Juga: Harga CPO Berpotensi Menguat Lewat Implementasi B50, GAPKI Ingatkan Risiko Kenaikan Pungutan Ekspor
Kebijakan itu bertujuan memperkuat likuiditas industri perbankan agar kapasitas penyaluran kredit meningkat.
Artikel Terkait
OJK Tegaskan Tak Berhenti Memburu Henry Surya, Penyitaan Aset Jadi Kunci Pemulihan Dana Pemegang Polis
IMF Pertahankan Proyeksi Ekonomi Indonesia 5 Persen, Mampukah Target APBN 2026 Tercapai di Tengah Risiko Global
Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi
Kasus BSI Anambas Masuk Pengadilan, Dugaan Dana Pelunasan Rp2,8 Miliar Terungkap Lewat Pengajuan Kredit
Putri William Soeryadjaya Tinggalkan Kursi Komisaris Saratoga Setelah Mengawal Korporasi Hampir 3 Dekade
Krisis PT Gunbuster Nickel Industry GNI Berlanjut, PHK 1.800 Pekerja Diiringi Harapan Investor Baru Segera Masuk
Harga CPO Berpotensi Menguat Lewat Implementasi B50, GAPKI Ingatkan Risiko Kenaikan Pungutan Ekspor
Mengapa Agrinas Dipercaya Kelola Sawit 400 Ribu Hektare untuk Mendukung Target Swasembada Pangan dan Energi
Rumah Dijaga TNI, Profil Febrie Adriansyah dan Rekam Jejak Jampidsus Kejagung Jadi Sorotan Publik
Pengunduran Diri Febrie Adriansyah Diterima Jaksa Agung, Bagaimana Nasib Penanganan Kasus Korupsi Selanjutnya