Biodiesel B50 Jadi Strategi Baru Mengoptimalkan Sawit Demi Ketahanan Energi dan Pertumbuhan Ekonomi

photo author
Tim Sulbar Ekspres, Sulbarekspres.com
- Jumat, 10 Juli 2026 | 13:02 WIB
Program Biodiesel B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun melalui pengurangan impor bahan bakar minyak dan optimalisasi energi domestik. (Dok. Bakom Ri)
Program Biodiesel B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun melalui pengurangan impor bahan bakar minyak dan optimalisasi energi domestik. (Dok. Bakom Ri)

Nilai tambah industri CPO diproyeksikan naik dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun, program tersebut juga diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

Kebutuhan biodiesel diperkirakan mencapai 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter dengan kebutuhan CPO sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.

Baca Juga: Brankas Rahasia di Cafe De'Clan Berisi Rp60 Miliar, Polisi Dalami Aliran Dana Dan Kepemilikan Aset Dugaan Korupsi

Pengujian Teknis Menunjukkan B50 Memenuhi Standar Berbagai Sektor Industri

Kementerian ESDM memastikan kesiapan teknis B50 telah melalui berbagai pengujian.

Pengujian dilakukan pada kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, alat dan mesin pertanian, kereta api, angkutan laut, hingga pembangkit listrik.

Hasilnya menunjukkan B50 memenuhi spesifikasi pemerintah sekaligus standar yang dipersyaratkan para pabrikan kendaraan.

Baca Juga: Belanja Negara Melampaui Target, Defisit APBN 2026 Meningkat Meski Pemerintah Tetap Optimistis Mengendalikannya

Uji implementasi juga dilakukan di Kutai Timur, Semarang, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, Kapal Geomarin ESDM di Cirebon, dan Instalasi Surabaya PT Pertamina Patra Niaga.

Perjalanan Biodiesel Nasional Berlangsung Bertahap Selama Hampir Dua Dekade

Program biodiesel nasional dimulai dari B2,5 pada 2008, pemerintah kemudian meningkatkan implementasi menjadi B10, B15, B20, B30, B35, B40, hingga kini mencapai B50.

Seluruh tahapan didukung penyempurnaan regulasi, peningkatan kapasitas industri, pembangunan infrastruktur distribusi, penguatan standar mutu, dan pengembangan sumber daya manusia.

Baca Juga: Rapat Panitia Munas VIII PSMTI Bahas Kesiapan Akhir, Pengurus Pusat dan Daerah Perkuat Sinergi Organisasi

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri menjadi fondasi utama kedaulatan energi.

"Kekayaan alam Indonesia tidak boleh lagi mengalir keluar tanpa memberikan nilai tambah bagi bangsa sendiri."

"Kita harus berani mengolahnya, menguasai teknologinya, membangun industrinya, dan menjadikannya sumber kedaulatan energi," tegas Prabowo Subianto.

Baca Juga: Pertemuan Dudung Abdurachman dan PSMTI Bahas Ekonomi, Kepastian Hukum serta Sinergi Pemerintah dengan Dunia Usaha

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X