Kelas Menengah Tergerus, Didik Rachbini Soroti Strategi Ekonomi Indonesia Mengejar Pertumbuhan 6-7 Persen

photo author
Tim Sulbar Ekspres, Sulbarekspres.com
- Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:23 WIB
Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kecemasan terhadap pekerjaan dan pendapatan perlu menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial. (Dok. HMN Media)
Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kecemasan terhadap pekerjaan dan pendapatan perlu menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial. (Dok. HMN Media)

Prabowo Dihadapkan Pilihan Menguatkan Negara Atau Memperluas Peran Swasta

Dalam pandangan Didik, Presiden Prabowo Subianto mewarisi kondisi ketika sebagian masyarakat yang sebelumnya naik kelas justru kembali mengalami tekanan kesejahteraan.

Ia melihat pemerintahan Prabowo berusaha mengubah arah kebijakan dengan memperbesar peran negara dalam perekonomian dibandingkan mengandalkan mekanisme swasta dan pasar.

“Struktur ekonomi ini harus ditransformasikan dari struktur ekonomi segitiga yang berpucuk ke atas menjadi struktur ekonomi belah ketupat,” katanya.

Baca Juga: 121 Kebijakan Prabowo Selama 663 Hari, dari Swasembada Pangan hingga Reformasi Layanan Publik Nasional

Menurut dia, struktur belah ketupat berarti memperkuat kelompok tengah dan kelas menengah agar tidak semakin tergerus.

Namun, transformasi ekonomi tersebut dinilai tidak cukup apabila hanya mengandalkan pendekatan inward looking dan eksploitasi sumber daya alam.

Ekonomi Berorientasi Ekspor Dibutuhkan untuk Mengejar Pertumbuhan Tinggi

Didik mendorong politik dan kebijakan ekonomi Indonesia lebih berorientasi keluar dengan memperkuat jaringan perdagangan dan aktivitas ekonomi internasional.

Baca Juga: Tsunami NTT Telah Berakhir, Namun Gempa Susulan Masih Terus Terjadi dan Sesar Flores Terus Dipantau BMKG

Menurutnya, kekuatan sektor luar negeri dapat memperbesar devisa sekaligus memperluas pasar bagi produk Indonesia.

“Ekonomi nasional justru akan kuat jika jaringan ke luar atau ekonomi sektor luar negeri kuat sehingga bersaing di pasar internasional dengan perolehan devisa yang besar,” ujar Didik.

Tantangan itu terlihat ketika Indonesia dibandingkan dengan Vietnam yang berhasil membangun basis manufaktur berorientasi ekspor secara agresif.

Baca Juga: Armand Hartono Pimpin AEI 2026-2029, Kolaborasi Regulator dan Emiten Jadi Kunci Menuju Pasar Kelas Dunia

Vietnam mencatat ekspor barang sekitar Dolar AS405,53 miliar pada 2024, sedangkan ekspor Indonesia mencapai Dolar AS282,91 miliar sepanjang 2025.

Pada 2025, ekspor Vietnam bahkan melonjak sekitar 17 persen menjadi Dolar AS475 miliar dan ikut menopang pertumbuhan ekonominya sebesar 8,02 persen.

Karena itu, Didik menilai penguatan perdagangan luar negeri menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Rekomendasi

Terkini

X