Prabowo Dihadapkan Pilihan Menguatkan Negara Atau Memperluas Peran Swasta
Dalam pandangan Didik, Presiden Prabowo Subianto mewarisi kondisi ketika sebagian masyarakat yang sebelumnya naik kelas justru kembali mengalami tekanan kesejahteraan.
Ia melihat pemerintahan Prabowo berusaha mengubah arah kebijakan dengan memperbesar peran negara dalam perekonomian dibandingkan mengandalkan mekanisme swasta dan pasar.
“Struktur ekonomi ini harus ditransformasikan dari struktur ekonomi segitiga yang berpucuk ke atas menjadi struktur ekonomi belah ketupat,” katanya.
Menurut dia, struktur belah ketupat berarti memperkuat kelompok tengah dan kelas menengah agar tidak semakin tergerus.
Namun, transformasi ekonomi tersebut dinilai tidak cukup apabila hanya mengandalkan pendekatan inward looking dan eksploitasi sumber daya alam.
Ekonomi Berorientasi Ekspor Dibutuhkan untuk Mengejar Pertumbuhan Tinggi
Didik mendorong politik dan kebijakan ekonomi Indonesia lebih berorientasi keluar dengan memperkuat jaringan perdagangan dan aktivitas ekonomi internasional.
Menurutnya, kekuatan sektor luar negeri dapat memperbesar devisa sekaligus memperluas pasar bagi produk Indonesia.
“Ekonomi nasional justru akan kuat jika jaringan ke luar atau ekonomi sektor luar negeri kuat sehingga bersaing di pasar internasional dengan perolehan devisa yang besar,” ujar Didik.
Tantangan itu terlihat ketika Indonesia dibandingkan dengan Vietnam yang berhasil membangun basis manufaktur berorientasi ekspor secara agresif.
Vietnam mencatat ekspor barang sekitar Dolar AS405,53 miliar pada 2024, sedangkan ekspor Indonesia mencapai Dolar AS282,91 miliar sepanjang 2025.
Pada 2025, ekspor Vietnam bahkan melonjak sekitar 17 persen menjadi Dolar AS475 miliar dan ikut menopang pertumbuhan ekonominya sebesar 8,02 persen.
Karena itu, Didik menilai penguatan perdagangan luar negeri menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen.****