Penjelasan tersebut menjadi penting karena logo Kemhan pada lambung kapal dapat menimbulkan persepsi berbeda mengenai status J7 Explorer.
Dengan demikian, fakta mengenai kepemilikan dan penggunaan kapal perlu dipisahkan agar tidak muncul kesimpulan bahwa aset tersebut telah menjadi milik negara.
Kemhan menyebut penggunaan kapal berkaitan dengan aktivitas operasional dan mobilisasi kebutuhan program pemerintah di sejumlah wilayah Indonesia.
J7 Explorer Menjadi Kapal Induk Proyek Pangan Merauke
J7 Explorer sebelumnya telah digunakan dalam proyek pencetakan sawah satu juta hektare di Merauke, Papua Selatan.
Kapal tersebut disebut menjadi "kapal induk" proyek karena berbagai kebutuhan logistik dan sumber daya manusia ditempatkan di dalamnya.
Haji Isam juga mengerahkan sekitar 2.000 ekskavator dari Tiongkok untuk mendukung percepatan pekerjaan pencetakan sawah tersebut.
Selain alat berat, armada tongkang miliknya digerakkan menuju Merauke dan tenaga ahli dari Tiongkok, Jepang, serta Eropa turut didatangkan.
Skala pengerahan tersebut memperlihatkan kebutuhan logistik besar yang muncul ketika pekerjaan dilakukan di kawasan dengan tantangan akses dan infrastruktur.
Dalam konteks itu, J7 Explorer berfungsi bukan sekadar kapal ekspedisi, tetapi menjadi bagian dari infrastruktur pendukung proyek di lapangan.
Haji Isam Ungkap Sikapnya dalam Proyek Cetak Sawah
Keterlibatan Haji Isam dalam proyek Merauke sebelumnya dikaitkan dengan penugasan Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung program pencetakan sawah.
Haji Isam menyatakan proyek tersebut merupakan pekerjaan besar negara dan menekankan keberhasilan program serta manfaat bagi masyarakat Papua.