Di rak lain terdapat The Republic karya Plato, The Muqaddimah karya Ibn Khaldun, The Origins of Political Order, The Changing World Order.
Capital and Ideology, Kissinger, The Gene, The Song of the Cell, Behave, An Immense World, The Sixth Extinction, hingga Why Nations Fail.
Seolah-olah setiap pertanyaan melahirkan pertanyaan berikutnya. Setelah memahami sejarah, seseorang perlu memahami negara.
Setelah memahami negara, ia perlu memahami manusia. Setelah memahami manusia, ia perlu memahami alam.
Yang menarik, di antara buku-buku tentang perang, diplomasi, dan filsafat, terselip rak-rak besar mengenai kuliner dunia.
Ada The Food Lab, Salt, Fat, Acid, Heat, Flavor, Plenty, Thai Food, Classic Italian Cooking, The World Atlas of Coffee, serta karya-karya Anthony Bourdain.
Peradaban, rupanya, tidak hanya dibangun oleh perang dan politik, tetapi juga oleh makanan, budaya, dan cara manusia hidup bersama.
Melihat keseluruhan koleksi ini, bagi saya terasa bahwa perpustakaan Hambalang bukanlah sekadar tempat Prabowo menyimpan buku. Ia merupakan ruang tempat berbagai zaman saling berdialog.
Napoleon berdampingan dengan Sun Tzu. Ibn Khaldun berbicara dengan Francis Fukuyama. Plato bertemu Robert Sapolsky.
Anthony Reid berdiskusi dengan Barbara Tuchman. Anthony Bourdain berjalan melewati rak-rak yang juga memuat karya Siddhartha Mukherjee.
Semuanya Hadir dalam Satu Ruangan.
Barangkali itulah sebabnya banyak keputusan penting, diskusi strategis, hingga percakapan santai berlangsung di perpustakaan ini.