Didik menilai pemerintah perlu kembali mengevaluasi arah kebijakan ekonomi apabila ingin mengejar pertumbuhan 7-8 persen seperti yang menjadi aspirasi pembangunan.
Bank Dunia mencatat Vietnam tumbuh sekitar 8 persen pada 2025, ditopang pemulihan ekspor manufaktur dan penguatan permintaan domestik.
Karena itu, Didik menilai perubahan orientasi dari inward looking menuju outward looking menjadi penting agar ekspor dapat berfungsi sebagai mesin pertumbuhan baru.
Ia mengingatkan belanja pemerintah tidak dapat menjadi penopang pertumbuhan tinggi secara permanen karena ruang fiskal memiliki keterbatasan.
Di sisi lain, konsumsi masyarakat juga dinilai menghadapi tantangan karena kelas menengah mengalami tekanan yang berpotensi membatasi kekuatan konsumsi domestik.
Didik menyimpulkan bahwa tanpa perubahan kebijakan tersebut, Indonesia berisiko bertahan pada pertumbuhan moderat sekitar 5 persen atau bahkan lebih rendah.****