ekonomi

Didik Rachbini Ungkap Tantangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pentingnya Ekspor Berorientasi Global

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45 WIB
Target pertumbuhan ekonomi 7-8 persen membutuhkan perubahan strategi. Didik J Rachbini menilai ekspor, investasi, dan industri berbasis sumber daya nasional harus diperkuat. (Dok Kreasi Dola AI)

INFO EKSPRES:

  • Indonesia memiliki pasar domestik besar, tetapi dinilai membutuhkan pasar global untuk mendorong industrialisasi berkelas dunia.
  • Investasi asing dan domestik dinilai dapat tumbuh bersamaan jika kebijakan ekonomi berorientasi ekspor.
  • Didik menilai tekanan kompetisi global dapat mendorong korporasi Indonesia meningkatkan produktivitas dan daya saing.

SULBAREKSPRES.COM - Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di sekitar 5 persen ketika sejumlah negara Asia mampu melaju jauh lebih cepat?

Apakah ketergantungan pada pasar domestik, konsumsi, dan belanja pemerintah justru membuat Indonesia kehilangan peluang menjadi kekuatan industri berorientasi ekspor?

Pertumbuhan Lima Persen Dinilai Belum Cukup Mengangkat Transformasi Ekonomi

Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai persoalan utama kebijakan ekonomi Indonesia terletak pada belum optimalnya pemanfaatan sektor luar negeri.

Baca Juga: Febrie Adriansyah Diberhentikan Sementara Sebagai Jaksa, Kejagung Jelaskan Alasan dan Mekanisme Sesuai Ketentuan

Menurut Didik, berbagai kebijakan selama ini cenderung inward looking karena terlalu mengandalkan kekuatan ekonomi domestik sebagai penopang pertumbuhan.

“Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking,” kata Didik J. Rachbini, dalam rilisnya.

Ia menilai pendekatan tersebut memang mampu menjaga pertumbuhan sekitar 5 persen, tetapi belum cukup mendorong transformasi struktural dan industrialisasi secara lebih agresif.

Baca Juga: Isu Defisit APBN Diatas 3 Persen Dibantah, Pemerintah Tegaskan RAPBN 2027 Tetap Mengacu Aturan Fiskal yang Berlaku

Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026, menunjukkan pertumbuhan masih bertahan di kisaran moderat.

Sektor Luar Negeri Dinilai Perlu Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Didik menilai Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya mengabaikan sektor luar negeri karena ekspor, investasi asing, dan hilirisasi tetap berlangsung.

Namun, menurut dia, sektor luar negeri belum ditempatkan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi nasional.

Baca Juga: Survei Terbaru IPO Ungkap Kepuasan Publik terhadap Presiden Prabowo, MBG Menjadi Faktor Persepsi Positif

“Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi,” ujar Didik J. Rachbini.

Halaman:

Tags

Terkini