INFO EKSPRES:
- Indonesia memiliki pasar domestik besar, tetapi dinilai membutuhkan pasar global untuk mendorong industrialisasi berkelas dunia.
- Investasi asing dan domestik dinilai dapat tumbuh bersamaan jika kebijakan ekonomi berorientasi ekspor.
- Didik menilai tekanan kompetisi global dapat mendorong korporasi Indonesia meningkatkan produktivitas dan daya saing.
SULBAREKSPRES.COM - Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di sekitar 5 persen ketika sejumlah negara Asia mampu melaju jauh lebih cepat?
Apakah ketergantungan pada pasar domestik, konsumsi, dan belanja pemerintah justru membuat Indonesia kehilangan peluang menjadi kekuatan industri berorientasi ekspor?
Pertumbuhan Lima Persen Dinilai Belum Cukup Mengangkat Transformasi Ekonomi
Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, menilai persoalan utama kebijakan ekonomi Indonesia terletak pada belum optimalnya pemanfaatan sektor luar negeri.
Menurut Didik, berbagai kebijakan selama ini cenderung inward looking karena terlalu mengandalkan kekuatan ekonomi domestik sebagai penopang pertumbuhan.
“Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking,” kata Didik J. Rachbini, dalam rilisnya.
Ia menilai pendekatan tersebut memang mampu menjaga pertumbuhan sekitar 5 persen, tetapi belum cukup mendorong transformasi struktural dan industrialisasi secara lebih agresif.
Badan Pusat Statistik sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026, menunjukkan pertumbuhan masih bertahan di kisaran moderat.
Sektor Luar Negeri Dinilai Perlu Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Didik menilai Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya mengabaikan sektor luar negeri karena ekspor, investasi asing, dan hilirisasi tetap berlangsung.
Namun, menurut dia, sektor luar negeri belum ditempatkan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi nasional.
“Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi,” ujar Didik J. Rachbini.