INFO EKSPRES:
- Opini WTP ke-10 menjadi indikator keberhasilan transparansi pengelolaan APBN dan kepercayaan terhadap tata kelola negara.
- Stimulus ekonomi Rp110,7 triliun diarahkan untuk memperkuat konsumsi, investasi, dan perlindungan masyarakat.
- Menkeu menegaskan APBN tetap kredibel, responsif, dan efektif menghadapi ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2025.
SULBAREKSPRES.COM - Mengapa pemerintah menyebut APBN 2025 berhasil menghadapi gejolak ekonomi global ketika tekanan internasional masih tinggi?
Benarkah opini WTP ke-10 berturut-turut menjadi bukti pengelolaan keuangan negara semakin akuntabel sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional?
APBN 2025 Raih WTP Ke-10, Pemerintah Klaim Ekonomi Tetap Tumbuh di Tengah Gejolak Global
Pemerintah menyatakan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 berjalan efisien, efektif, dan akuntabel meski menghadapi tekanan ekonomi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa.
Badan Pemeriksa Keuangan kembali memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2025.
Capaian itu menjadi opini WTP kesepuluh secara berturut-turut sejak laporan keuangan pemerintah tahun 2016.
"Untuk itu, pemerintah menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan APBN tahun 2025," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI.
Gejolak Global Meningkat Tetapi Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh Stabil
Purbaya mengatakan tahun 2025 diwarnai ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dan meningkatnya fragmentasi perdagangan dunia.
Situasi tersebut memengaruhi perdagangan internasional, rantai logistik global, dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan, meski demikian, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen sepanjang 2025.
Baca Juga: Mengapa KH Yahya Cholil Staquf Kembali Maju Pada Muktamar NU Ke-35? Ini Alasan dan Target Utamanya
Pertumbuhan itu ditopang konsumsi rumah tangga sebesar 4,98 persen serta investasi yang tumbuh 5,09 persen, laju inflasi juga tetap terkendali pada level 2,92 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga ketika banyak negara menghadapi perlambatan pertumbuhan.