ekonomi

Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Dipertanyakan Setelah IMF Pertahankan Proyeksi Hanya 5 Persen

Senin, 13 Juli 2026 | 10:12 WIB
Tekanan harga minyak dunia dinilai mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)

Bank Dunia sebelumnya mempertahankan proyeksi ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027.

OECD menjadi lembaga dengan proyeksi paling rendah, yakni 4,7 persen pada 2026 sebelum pulih menjadi 5 persen pada 2027.

Baca Juga: Presiden Prabowo Catat Beragam Capaian Sepekan, Dari Kerja Sama Internasional Hingga Penguatan Ekonomi Desa

"Indonesia diproyeksikan mengalami penurunan pertumbuhan yang lebih moderat... dengan pertumbuhan melambat dari 5,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen pada 2026, diikuti oleh pemulihan menjadi 5,0 persen pada 2027," tulis OECD dalam Economic Outlook Under Pressure.

Tekanan Eksternal Dinilai Persempit Ruang Fiskal Pemerintah Indonesia

Ekonom Makro BTN, Myrdal Gunarto, menilai perbedaan proyeksi tersebut masih wajar mengingat tekanan global masih cukup besar.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia membatasi ruang fiskal pemerintah karena anggaran juga harus menjaga subsidi energi.

Baca Juga: Koleksi Buku Perpustakaan Gambarkan Perjalanan Intelektual Prabowo Sejak Menjadi Ketua Tim Debat di London

"Pressure dari eksternal ini yang membuat kapasitas dari pemerintah untuk melakukan ekspansi fiskal juga menjadi lebih terbatas."

"Karena ruang untuk ekspansi ini dibatasi oleh kebutuhan pemerintah untuk menjaga subsidi terutama masyarakat kelas menengah bawah," kata Myrdal Gunarto.

Kementerian Keuangan sebelumnya memperkirakan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,81 persen terhadap PDB apabila harga minyak Indonesia rata-rata mencapai Dolar AS83 per barel.

Baca Juga: Mengapa KPK Menyita SGD12 Ribu dalam Kasus Alih Fungsi Hutan, Ini Fakta Penyidikan Terbaru yang Terungkap

Kondisi tersebut muncul setelah pemerintah sebelumnya mendorong pertumbuhan melalui belanja negara dan berbagai stimulus ekonomi pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Konsumsi Domestik Masih Menjadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Selain belanja pemerintah, investasi dan ekspor juga menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, defisit neraca dagang Mei 2026 sebesar Dolar AS1,61 miliar turut menunjukkan pelemahan kontribusi ekspor.

Myrdal menilai konsumsi rumah tangga masih menjadi penyangga utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Kasus Febrie Adriansyah Berkembang, 2 Tersangka Ditetapkan dan Aset Bernilai Fantastis Disita Penyidik

Halaman:

Tags

Terkini