Nilai tambah industri CPO diproyeksikan naik dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun, program tersebut juga diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Kebutuhan biodiesel diperkirakan mencapai 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter dengan kebutuhan CPO sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.
Pengujian Teknis Menunjukkan B50 Memenuhi Standar Berbagai Sektor Industri
Kementerian ESDM memastikan kesiapan teknis B50 telah melalui berbagai pengujian.
Pengujian dilakukan pada kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, alat dan mesin pertanian, kereta api, angkutan laut, hingga pembangkit listrik.
Hasilnya menunjukkan B50 memenuhi spesifikasi pemerintah sekaligus standar yang dipersyaratkan para pabrikan kendaraan.
Uji implementasi juga dilakukan di Kutai Timur, Semarang, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, Kapal Geomarin ESDM di Cirebon, dan Instalasi Surabaya PT Pertamina Patra Niaga.
Perjalanan Biodiesel Nasional Berlangsung Bertahap Selama Hampir Dua Dekade
Program biodiesel nasional dimulai dari B2,5 pada 2008, pemerintah kemudian meningkatkan implementasi menjadi B10, B15, B20, B30, B35, B40, hingga kini mencapai B50.
Seluruh tahapan didukung penyempurnaan regulasi, peningkatan kapasitas industri, pembangunan infrastruktur distribusi, penguatan standar mutu, dan pengembangan sumber daya manusia.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri menjadi fondasi utama kedaulatan energi.
"Kekayaan alam Indonesia tidak boleh lagi mengalir keluar tanpa memberikan nilai tambah bagi bangsa sendiri."
"Kita harus berani mengolahnya, menguasai teknologinya, membangun industrinya, dan menjadikannya sumber kedaulatan energi," tegas Prabowo Subianto.