INTISARI :
- Outlook APBN 2026 menunjukkan defisit naik menjadi 2,85 persen PDB, lebih tinggi dibanding target awal sebesar 2,68 persen PDB.
- Pemerintah mengusulkan tambahan belanja Rp132 triliun untuk memenuhi subsidi dan kompensasi energi yang diperkirakan meningkat.
- Pendapatan negara diproyeksikan melampaui target, namun penerimaan pajak dan kepabeanan masih berada di bawah sasaran APBN.
SULBAREKSPRES.COM - Apakah pelebaran defisit APBN 2026 menjadi sinyal tekanan baru terhadap kondisi fiskal Indonesia, atau justru konsekuensi dari percepatan program prioritas pemerintah?
Mampukah pemerintah menjaga keseimbangan anggaran ketika kebutuhan belanja meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan negara?
Proyeksi terbaru pemerintah menunjukkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melebar dibandingkan target awal.
Meski demikian, pemerintah menegaskan ruang pengendalian fiskal masih terbuka hingga akhir tahun anggaran.
Belanja Negara Meningkat Lebih Cepat Dibandingkan Pertumbuhan Pendapatan Pemerintah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan proyeksi defisit APBN 2026 mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target dalam APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
Menurut outlook pemerintah, pelebaran defisit dipicu pertumbuhan belanja negara yang melampaui peningkatan pendapatan negara sepanjang tahun anggaran berjalan.
Pemerintah Optimistis Ruang Pengendalian Defisit Fiskal Masih Tetap Terbuka Hingga Akhir
Dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI pada Rabu, 8 Juli 2026, Purbaya menegaskan pemerintah masih optimistis mampu mengendalikan posisi defisit.
"Saya yakin kita masih bisa menekan defisit ini ke bawah," ujar Purbaya Yudhi Sadewa.
Ia menjelaskan kebutuhan pembiayaan anggaran diperkirakan meningkat menjadi Rp734,3 triliun seiring bertambahnya kebutuhan menutup defisit fiskal yang lebih besar dibandingkan rencana semula.