Setiap kali memandang ke luar jendela, matanya selalu mencari pohon kelor yang ditanam sang adik di depan istana.
Suatu pagi, ia melihat daun-daun pohon itu mulai layu sehingga teringat pesan terakhir adiknya sebelum pulang.
Tanpa menunggu lebih lama, Samba Paria memutuskan mempertaruhkan segalanya demi kembali kepada satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.
Ketika raja pergi berburu, Samba Paria memasak makanan dalam jumlah banyak agar kepergiannya tidak segera dicurigai.
Ia kemudian mandi di sungai bersama para dayang dan sengaja menjatuhkan cincin pemberian raja ke dalam air, para dayang panik lalu menyelam mencari cincin tersebut karena takut dihukum jika gagal menemukannya.
Memanfaatkan kesempatan itu, Samba Paria segera mengenakan pakaiannya, membawa bekal, lalu menunggang kuda menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia mendapati sang adik terbaring lemah akibat sakit dan kekurangan makanan.
Dengan mata berkaca-kaca, Samba Paria menyuapi adiknya perlahan hingga anak itu kembali sadar dan tersenyum haru, keduanya berpelukan erat setelah sekian lama dipisahkan oleh kekejaman sang raja.
Keberanian dan Kecerdikan Mengakhiri Tirani Raja Bumi Mandar Selamanya
Samba Paria sadar raja pasti akan datang mencarinya hingga ke rumah di tengah hutan, ia lalu meracik campuran cabai, merica, daun kelor, abu dapur, dan air hingga menjadi adonan yang sangat pedas.
Benar saja, tidak lama kemudian terdengar ketukan keras di pintu rumah disertai suara raja yang memerintahkannya keluar.
Begitu pintu terbuka, Samba Paria langsung menyiramkan ramuan itu ke wajah sang raja.
Raja menjerit kesakitan sambil mengusap kedua matanya yang tak lagi mampu melihat, dalam keadaan panik, langkahnya terpeleset di depan tangga rumah panggung.
Tubuhnya terjatuh keras dan lehernya menghantam batu besar hingga akhirnya meninggal seketika, kabar kematian raja segera menyebar ke seluruh penjuru Bumi Mandar.
Rakyat yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketakutan akhirnya merasakan kebebasan yang telah lama mereka impikan.
Para permaisuri, pengawal, dan penghuni istana memilih kembali kepada keluarga masing-masing setelah belenggu kekuasaan berakhir.
Artikel Terkait
KPK Buka Peluang Sita Dugaan Uang Rp100 Juta kepada Gus Miftah Jika Terbukti Berasal dari Korupsi DJKA
Coretax Jadi Senjata DJP Menjaga Penerimaan PPN di Tengah Melemahnya Konsumsi, Apa Dampaknya Bagi APBN
Fakta RUU Perampasan Aset Menurut Habiburokhman, DPR Sebut Skema Baru Membuat Pembahasan Regulasi Lebih Cepat
Menhut Raja Juli Antoni menjadi sorotan setelah melaporkan dan mengembalikan amplop, sementara KPK menyita SGD12 ribu dalam penyidikan dugaan gratifik
Richard Lee Sebut Penghentian Obat Keras Berisiko, Hakim Minta Dokumen Medis Sebelum Ambil Keputusan Penahanan
Mengapa KH Yahya Cholil Staquf Kembali Maju Pada Muktamar NU Ke-35? Ini Alasan dan Target Utamanya
Mengapa FBI Ikut dalam Kasus Febrie Adriansyah, Polri Jelaskan Pemeriksaan Dolar AS dan Barang Bukti Korupsi
SapuLangit Media Dorong Literasi Budaya Lewat Rubrik Cerita Rakyat yang Angkat Legenda Lokal dari Berbagai Daerah
Stimulus Rp110,7 Triliun dan APBN 2025 Diklaim Jaga Daya Beli, Seberapa Besar Dampaknya Bagi Masyarakat
Mengapa Isu Aisyah Zakiyyah dan Dody Hanggodo Ramai Dibahas? Simak Fakta Lengkap Pengangkatan Komisaris PT PP