Dengan demikian, kesinambungan penyerapan menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara produksi, permintaan, dan harga.
Distribusi Surplus ke Timur Jadi Fokus Business Matching Pemerintah
Selain memperkuat permintaan, Kementerian Perdagangan menjalankan business matching antardaerah untuk mempertemukan wilayah surplus dengan daerah yang kekurangan pasokan.
Langkah tersebut terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan telur dan daging ayam di wilayah Indonesia bagian timur.
“Dari beberapa hari yang lalu kita sudah melakukan business matching antarwilayah,” ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Budi mengatakan pertemuan pelaku usaha dari sejumlah daerah telah dilakukan beberapa kali melalui pertemuan daring.
“Kita ingin menyuplai dari yang daerah surplus ini ke daerah yang kurang ya, artinya kurang pasokannya, terutama di wilayah timur,” katanya.
Pemerintah berharap distribusi dari daerah surplus segera terealisasi sehingga produk tidak menumpuk di sentra produksi.
Harga Telur Nasional Rp26 Ribu, Masih di Bawah HET
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, harga rata-rata nasional telur saat ini berada sekitar Rp26.000 per kilogram.
Angka tersebut masih berada di bawah HET telur sebesar Rp30.000 per kilogram di tingkat konsumen.
Kondisi itu menunjukkan adanya persoalan berbeda antara harga di tingkat peternak, distribusi, dan harga yang dibayar konsumen.
Baca Juga: Juda Agung Soroti Kebutuhan Investasi 2027, Swasta Diproyeksikan Topang Rp7.973 Triliun Pembiayaan
Sebelumnya, pemerintah menetapkan harga acuan pembelian telur sebesar Rp24.000 per kilogram dan ayam hidup minimal Rp19.500 per kilogram di tingkat peternak.