Langkah tersebut kemudian diperkuat kerja sama PT Pegadaian dan KSEI pada Juni 2026 untuk mendukung penerapan EGR dan ETF emas semester II 2026.
Ekosistem Terintegrasi Dibutuhkan Agar ETF Emas Semakin Likuid
Airlangga menilai ETF emas bukan sekadar menambah pilihan investasi, tetapi juga berpotensi memperkuat likuiditas dan kedalaman pasar keuangan Indonesia.
Baca Juga: Didik Rachbini Ungkap Tantangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pentingnya Ekspor Berorientasi Global
“Emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” terang Airlangga Hartarto.
Menurut dia, ekosistem ETF emas harus terintegrasi dengan melibatkan manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer, hingga bursa efek.
Pengembangan ekosistem tersebut menjadi penting karena EGR dan ETF emas masih berada dalam tahap awal implementasi di pasar modal Indonesia.
Cadangan Emas Pegadaian Berpotensi Perkuat Pasar ETF Nasional
Airlangga melihat potensi besar dari pengembangan instrumen investasi berbasis emas karena kepemilikan emas di Pegadaian mencapai sekitar 153 ton.
Jika dikonversikan menggunakan nilai saat ini, jumlah tersebut disebut Airlangga setara sekitar Dolar AS 20 miliar.
Potensi itu dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat basis aset dan pengembangan pasar ETF emas Indonesia ke depan.
Airlangga bahkan optimistis Indonesia dapat mengejar negara-negara lain yang telah memiliki pasar ETF emas lebih besar.
ETF Emas Buka Akses Baru Bagi Investor Institusi Indonesia
Selain investor ritel, ETF emas berpotensi memperluas ruang investasi bagi korporasi dan investor institusional, termasuk industri asuransi.
Airlangga mengatakan ETF emas membuka peluang lebih besar bagi perusahaan asuransi berinvestasi pada aset berbasis emas.