Fiskal Tetap On Track Meski Ketidakpastian Ekonomi Global Berlanjut
Di tengah kebutuhan pembiayaan besar, Juda menyebut kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur yang sesuai atau on track.
“Alhamdulillah, kondisi fiskal kita saat ini on track. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang sedang kita hadapi, penerimaan negara tumbuh stabil, sekitar 24%,” ujar Juda Agung.
Menurut Juda, pertumbuhan penerimaan tersebut menjadi salah satu indikator terjaganya kondisi fiskal Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Kementerian Keuangan sebelumnya melaporkan pendapatan negara Semester I 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen secara tahunan.
Pasar Modal Menjadi Jembatan Pembiayaan Korporasi dan Dana Masyarakat
Selain menjaga penerimaan, pemerintah tetap mengendalikan belanja dan defisit agar APBN mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Juda menegaskan pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen sebagai bagian dari kehati-hatian dalam mengelola posisi fiskal.
Pada Semester I 2026, defisit APBN tercatat Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto.
Juda menilai pasar modal memiliki posisi strategis untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat.
Menurut dia, penguatan pasar modal diperlukan untuk menciptakan sumber pembiayaan yang lebih dalam, likuid, transparan, dan kredibel.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar kebutuhan investasi 2027 harus dipenuhi sektor swasta, bukan APBN.****