Sulbar Ekspres - Dalam permaslahan pekerja Asing atau TKA asal Tiongkok masih jadi perdebatan besar di Indonesia.Pasalnya, banyak isu yang menjadi kompleks ketika ditarik ke politik.
Dalam persinggungan terkait identitas, kedaulatan negara.Karenanya fenomena ini sebetulnya tak terelakkan dari grand design ekonomi yang digariskan oleh pemerintah Tiongkok sejak tahun 1990-an.
Kini Tiongkok membuka diri terhadap investasi asing, karena Tiongkok sempat memasuki periode liberalisasi sektor finansia, sekaligus juga mendorong perusahaan-perusahaannya untuk berinvestasi di luar negeri.
Baca Juga: Pria Berbuat Keji Kepada Wanita Hingga Menghamili dan Membunuh
Salah satu kebijakan yang menyertai investasi di luar negeri itu adalah kemudahan pengiriman staf atau tenaga kerja ke negara tujuan investasi.
Mengapa itu dilakukan? Well, jadi pada periode 1990-an adalah masa ketika Tiongkok mencoba meniru model Sogo Shosha dan Chaebols yang diterapkan oleh Jepang dan Korsel.
Ini adalah salah satu program dukungan bagi para konglomerat untuk membesarkan usahanya dan membuat perkembangannya semakin mencuat.
Baca Juga: Daftar Harga All New Mazda Perfebruari 2023
Demi ketenangan Progam tersebut,pemerintah Tiongkok berusaha membuat kebijakan harus menyertakan beberapa sektor minimal penyerapan tenaga kerja di dalamnya.
Sehingga ketika aliran uang dibuang ke luar lewat investasi, harus tetap ada minimal sedikit penyerapan tenaga kerja Tiongkok di sana.
Kemudian menempatkan Tiongkok sebagai negara dengan tingkat pengiriman uang dari pekerja alias remitansi dari luar negeri tertinggi ke-2 di dunia, hanya kalah dari India.
Kemungkinan besar yang jadi masalah jika para pekerja ini dikirim 1000 orang misalnya, tapi yang kembali ke Tiongkok hanya katakanlah 700 orang.***