Data Bank Dunia menunjukkan pendapatan per kapita Korea Selatan mencapai sekitar Dolar AS36.227 pada 2025, sedangkan Indonesia sekitar Dolar AS5.060.
Artinya, kesenjangan pendapatan per kapita kedua negara kini sekitar tujuh kali, memperlihatkan perbedaan hasil pembangunan dalam beberapa dekade.
“Indonesia ternyata masih belum setara dengan negara lain yang berkembang bersama dalam 4-5 dekade terakhir ini,” kata Prof. Didik J. Rachbini.
Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina itu menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sekitar 5 persen belum cukup mempercepat peningkatan kesejahteraan.
Kelas Menengah Menyusut, Tabungan Masyarakat Menjadi Sinyal Risiko Ekonomi
Persoalan tersebut semakin penting karena kelas menengah sebagai salah satu penopang konsumsi mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.
Studi LPEM FEB UI mencatat jumlah kelas menengah meningkat dari sekitar 39 juta orang pada 2014 menjadi 60 juta orang pada 2018.
Namun, jumlah tersebut kemudian turun lebih dari 8,5 juta orang sehingga pada 2023 tersisa sekitar 52 juta orang atau 18,8 persen populasi.
LPEM FEB UI juga mencatat peningkatan porsi pengeluaran makanan menjadi salah satu sinyal melemahnya daya beli kelompok kelas menengah.
Didik menilai pelemahan tersebut dapat mengurangi kemampuan masyarakat menghadapi guncangan ekonomi, termasuk menunda pembelian barang tahan lama.
“Kehilangan rasa aman sering kali memengaruhi persepsi terhadap pemerintah dan kebijakan,” ujar Prof. Didik J. Rachbini.
Ia memperingatkan kondisi tersebut perlu diperhatikan karena kecemasan mengenai pekerjaan dan pendapatan dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi serta sosial-politik.