INFO EKSPRES:
- Didik menilai pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen belum cukup untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.
- Penyusutan tabungan kelompok bawah disebut menjadi sinyal melemahnya daya tahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi.
- Penguatan sektor luar negeri dinilai penting untuk meningkatkan devisa dan membuka ruang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
SULBAREKSPRES.COM - Apakah kemerdekaan ekonomi cukup diukur dari pertumbuhan sekitar 5 persen, ketika jutaan warga justru turun dari kelas menengah?
Lalu, mampukah Indonesia mengejar negara yang dahulu memiliki tingkat pendapatan per kapita relatif serupa, tetapi kini jauh lebih maju?
Kemerdekaan Ekonomi Masih Menghadapi Tantangan Keadilan dan Kesejahteraan
Refleksi ekonomi kemerdekaan menunjukkan Indonesia telah mengalami kemajuan besar sejak krisis 1998, tetapi kesenjangan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah.
Pada 1998, pendapatan per kapita Indonesia disebut sekitar Dolar AS455 ketika perekonomian terpuruk akibat krisis finansial dan gejolak politik.
Transisi pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie kemudian diikuti stabilisasi ekonomi dan politik, reformasi kelembagaan, demokratisasi serta penguatan kebebasan pers.
Nilai tukar rupiah yang sempat mencapai Rp16.400 per Dolar AS kemudian distabilkan hingga sekitar Rp6.500 per Dolar AS dalam periode tersebut.
Baca Juga: Gempa M7,7 NTT Guncang Sejumlah Wilayah, Peringatan Tsunami Berakhir dan Warga Diminta Tetap Waspada
Sejumlah fondasi reformasi juga lahir, termasuk Undang-Undang Bank Indonesia, aturan antimonopoli, pembebasan tahanan politik dan pembukaan ruang demokrasi.
Kepemimpinan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri kemudian ikut mengawal perkembangan ekonomi hingga Indonesia berkembang menjadi anggota kelompok G20.
Kesenjangan Indonesia dengan Korea Selatan Menjadi Cermin Ketertinggalan Ekonomi
Menurut Prof. Didik J. Rachbini, Indonesia belum mencapai tingkat kesejahteraan yang setara dengan negara lain yang berkembang dalam periode panjang.
Ia menyoroti Korea Selatan sebagai pembanding karena pendapatan kedua negara pada dekade 1960-an disebut tidak berbeda jauh.