Dengan pembagian saham Michael, kepentingan ekonominya di holding kini diteruskan kepada empat anak melalui kepemilikan masing-masing 12,25%.
Nilai warisan tersebut terutama mengikuti valuasi BCA, yang merupakan salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Laporan terbaru memperkirakan porsi Michael di Dwimuria sendiri bernilai sedikitnya Dolar AS11,7 miliar hanya jika memperhitungkan kepemilikan holding atas BCA.
Struktur ini menunjukkan bahwa warisan keluarga Hartono bukan sekadar pembagian kekayaan, tetapi juga transfer kepemilikan strategis.
Empat Ahli Waris Memiliki Peran Berbeda dalam Ekosistem Bisnis
Roberto Setiabudi Hartono disebut berfokus pada manufaktur, elektronik, serta teknologi consumer goods melalui ekosistem Grup Djarum.
Salah satu lini yang terkait ialah PT Hartono Istana Teknologi, pemilik merek elektronik Polytron dan Digitec.
Tessa Natalia Hartono disebut aktif dalam pengelolaan sektor properti, ritel, dan hospitality komersial, termasuk Grand Indonesia.
Stefanus Wijaya Hartono memainkan peran pada pengembangan infrastruktur telekomunikasi serta bisnis pendukung yang terhubung dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk.
Sementara Vanessa Ratnasari Hartono disebut aktif mengawasi portofolio investasi dan ekspansi bisnis dalam ekosistem Grup Djarum.
Pembagian peran tersebut memperlihatkan bagaimana generasi berikutnya mulai mengambil posisi dalam bisnis keluarga yang telah terdiversifikasi.
Dari Djarum Hingga Telekomunikasi Portofolio Terus Meluas
Kekayaan Michael tidak hanya bertumpu pada industri rokok kretek, tetapi juga berkembang melalui perbankan, elektronik, telekomunikasi, properti, dan perdagangan digital.