INFO EKSPRES:
- Kepemimpinan perempuan juga terlihat di OJK, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kementerian PANRB.
- Rangkaian penunjukan tersebut menempatkan meritokrasi, kompetensi, dan pengalaman sebagai isu penting dalam kepemimpinan nasional.
- Destry Damayanti berpeluang menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sejak lembaga itu berdiri pada 1953.
SULBAREKSPRES.COM - Mengapa sejumlah institusi strategis Indonesia yang puluhan tahun didominasi laki-laki kini mulai membuka ruang bagi perempuan?
Apakah rangkaian penunjukan tersebut menandai mulai runtuhnya “glass ceiling” kepemimpinan perempuan di level tertinggi negara?
Presiden Prabowo Subianto kini dikaitkan dengan sejumlah penunjukan perempuan pada posisi strategis, mulai dari moneter hingga birokrasi dan penerbangan kepresidenan.
Destry Membuka Babak Baru Bagi Kepemimpinan Perempuan di Bank Indonesia
Bank Indonesia berdiri pada 1953, dan setelah 73 tahun, Destry Damayanti diajukan sebagai calon Gubernur BI pada Senin, (10/08/2026).
Destry sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior BI dan kini menjalankan tugas sebagai Gubernur BI sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Jika DPR menyetujui pencalonannya, Destry akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia sejak lembaga tersebut berdiri.
Jejak Panjang Institusi Negara Kini Diwarnai Pemimpin Perempuan Strategis Nasional
Di OJK, Friderica Widyasari Dewi menjadi perempuan pertama yang memimpin Dewan Komisioner setelah lembaga tersebut berdiri pada 2011.
Friderica dipilih Komisi XI DPR setelah mengikuti proses uji kelayakan dari kandidat yang diajukan Presiden Prabowo, dan kini tercatat sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK periode 2026–2032.
Sementara itu, Meutya Hafid memimpin Kementerian Komunikasi dan Digital, sedangkan Rini Widyantini memimpin Kementerian PANRB dalam pemerintahan Prabowo.
Meritokrasi Menjadi Kata Kunci Saat Kompetensi Perempuan Menduduki Posisi Strategis
Rini Widyantini menegaskan bahwa perempuan dalam birokrasi bukan sekadar representasi, tetapi aktor penting dalam pengambilan keputusan dan reformasi.
“Perempuan dalam birokrasi bukan sekadar representasi, tetapi aktor kunci dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan reformasi birokrasi,” ujar Rini Widyantini, Menteri PANRB.