Ramalan itulah yang membuat raja semakin sering memasuki hutan untuk mencari gadis yang dimaksud.
Pertemuan di Tengah Rimba Mengubah Nasib Seorang Gadis Pemberani Selamanya
Jauh di pedalaman hutan, berdirilah sebuah rumah panggung sederhana yang hampir seluruh bagiannya diselimuti sulur tanaman peria.
Di rumah itu tinggal dua kakak beradik yatim piatu yang saling menjaga sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia.
Baca Juga: Kapolsek Ucapkan Selamat HUT TNI 79 ke Koramil 1306-11 Moutong!
Sang kakak bernama Samba, gadis berusia enam belas tahun yang dikenal lembut, rajin, dan berhati penuh kasih.
Karena rumahnya dipenuhi tanaman peria, masyarakat yang sesekali melewati kawasan itu menjulukinya Samba Paria, suatu siang mereka menikmati talas rebus sebagai santapan sederhana hasil kebun sendiri.
Ketika sepotong talas jatuh ke tanah, mereka membiarkannya karena sudah dianggap tidak layak dimakan.
Baca Juga: Polsek Moutong Rutin Patroli Pebatasan Gotontalo-Sulteng, Anggota Beri Imbauan Pengendara!
Pada saat yang sama, rombongan raja sedang berburu bersama pengawal dan anjing-anjing pemburu di hutan itu.
Seekor anjing kembali membawa talas yang masih hangat sehingga membuat raja yakin ada penghuni di tengah rimba, dipenuhi rasa penasaran, raja mengikuti anjing tersebut hingga tiba di depan rumah yang tertutup rimbunnya daun peria.
Ketika pintu terbuka, raja terpaku melihat kecantikan Samba Paria yang begitu anggun dan bersahaja.
"Siapakah engkau, gadis secantik bunga di tengah hutan ini?" tanya sang raja dengan mata berbinar.
Samba Paria hanya menundukkan kepala dan mempersilakan tamunya beristirahat dengan sopan, saat mengetahui persediaan air habis, ia meminta adiknya mengambil air dari sungai.
Diam-diam raja melubangi wadah air milik anak itu agar perjalanan ke sungai berlangsung sangat lama, begitu sang adik pergi, raja memerintahkan pengawalnya menangkap Samba Paria dan membawanya ke istana.