Menurut dia, industri otomotif tanah air saat ini, tidak hanya dituntut untuk memberikan berbagai fitur terkini. Namun, harga untuk satu mobil juga menjadi peran penting untuk dapat merangkul calon konsumen muda seperti yang banyak direbutkan oleh produsen, baik Jepang, China, Korea hingga Eropa.
"Korea dan China berani mengurangi profit margin per tiap kendaraan yang mereka produksi dan mereka sangat didukung secara kuat oleh pemerintah masing-masing untuk ekspansi ke pasar-pasar baru di luar negeri, termasuk Indonesia," jelas dia
Tren ini menurut dia perlu diwaspadai oleh para produsen otomotif dari Jepang, yang saat ini tidak terlalu memberikan banyak fitur dan campuran teknologi di dalam satu kendaraannya.
Dia menilai jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin produsen yang sudah menduduki pasar otomotif di Indonesia akan tergerus oleh hadirnya pemain-pemain baru yang lebih berani untuk memberikan yang mereka inginkan.
Mobil-mobil Jepang, Eropa dan USA yang berharga Rp500 juta ke bawah tapi pelit fitur penyenang tersebut, pelan tapi pasti akan tergerus oleh brand-brand baru dengan desain yang semakin keren dan fitur canggih yang semakin bertaburan," kata dia.
Senada dengan hal tersebut, pengunjung IIMS 2023 asal Bogor, Jawa Barat, Rusly Indrawan mengatakan bahwa fitur dan teknologi memang menjadi poin penting untuk orang membeli kendaraan.
"Meski tidak dipakai semuanya, tapi fitur dan penyematan teknologi seperti yang bisa terkoneksi dengan smartphone itu jadi kelihatan keren aja," tegas dia.
Tidak hanya itu, pria yang sedang melihat-melihat Wuling Alvez ini membenarkan bahwa peran harga untuk satu kendaraan juga menjadi tonggak penting dalam mengambil keputusan bertransaksi.
Tidak hanya Rusly, pengunjung asal Bintaro, Indra Widjaja juga menyatakan hal yang sama. Fitur dalam sebuah mobil memiliki peran penting dalam menarik perhatian masyarakat untuk membeli kendaraan tersebut.
Meski begitu, dia meminta para produsen otomotif yang aktif menghadirkan berbagai fitur di dalam satu kendaraan ini untuk lebih gencar dalam menyosialisasikannya kepada calon konsumen.
"Kalau bisa sih, produsen juga bisa kasih pelajaran ke kami. Karena mobil ini bukan hanya digunakan sama kita-kita yang muda. Kayak saya ini, mobil juga sering digunakan oleh orang tua saya," kata dia yang memiliki Wuling Almaz RS.
Jelas produsen otomotif tanah air, memang diharapkan untuk bisa bersaing dengan membawa berbagai kecanggihan di dalamnya. Namun, produsen juga diminta untuk memberikan harga yang sangat terjangkau untuk konsumen di Indonesia.
Sekarang konsumen otomotif Indonesia sudah sangat akrab dengan kendaraan-kendaraan yang mengusung fitur melalui fitur keselamatan aktif dan juga memanfaatkan internet untuk menghubungkan kendaraan ke pemiliknya seperti Internet of Vehicle (IoV) yang banyak hadir di kendaraan masa kini.***