Pemerintah pada Juni 2026 menargetkan ratifikasi IEU-CEPA selesai pada semester II 2026 dan implementasinya dimulai awal 2027.
Perjanjian tersebut diproyeksikan menghapus tarif perdagangan sekitar 98 persen pos tarif dan memperluas akses produk Indonesia.
Perkembangan terbaru menunjukkan IEU-CEPA telah memasuki tahap akhir menuju penandatanganan dan ratifikasi.
Konteks tersebut membuat penguatan industri berbasis energi bersih menjadi semakin relevan bagi orientasi ekspor Indonesia.
Namun, peningkatan daya saing tetap membutuhkan dukungan pembiayaan dan kebijakan industri yang konsisten.
September Menjadi Titik Awal Transformasi Kebijakan Ekonomi Kementerian Keuangan
Purbaya optimistis transformasi kebijakan fiskal dapat memperkuat manufaktur, ekspor, dan pertumbuhan ekonomi secara bersamaan.
Menurutnya, dukungan pembiayaan yang solid diperlukan agar transformasi industri berbasis energi bersih berjalan lebih efektif.
Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan perekonomian yang semakin tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
“Saya ingin menggunakan semua yang ada untuk memaksimalkan potensi ekonomi kita,” pungkas Purbaya Yudhi Sadewa.
Dengan strategi itu, pemerintah menempatkan FTA, energi terbarukan, manufaktur, dan fiskal sebagai bagian dari agenda pertumbuhan nasional.
Target pertumbuhan 6 hingga 8 persen menjadi sasaran besar yang ingin didukung melalui perubahan pendekatan tersebut.****