Seekor anjing kembali membawa talas yang masih hangat sehingga membuat raja yakin ada penghuni di tengah rimba, dipenuhi rasa penasaran, raja mengikuti anjing tersebut hingga tiba di depan rumah yang tertutup rimbunnya daun peria.
Ketika pintu terbuka, raja terpaku melihat kecantikan Samba Paria yang begitu anggun dan bersahaja.
"Siapakah engkau, gadis secantik bunga di tengah hutan ini?" tanya sang raja dengan mata berbinar.
Samba Paria hanya menundukkan kepala dan mempersilakan tamunya beristirahat dengan sopan, saat mengetahui persediaan air habis, ia meminta adiknya mengambil air dari sungai.
Diam-diam raja melubangi wadah air milik anak itu agar perjalanan ke sungai berlangsung sangat lama, begitu sang adik pergi, raja memerintahkan pengawalnya menangkap Samba Paria dan membawanya ke istana.
Tangis dan permohonan gadis itu tidak mampu meluluhkan hati sang penguasa yang telah dikuasai keserakahan.
Jejak Daun Peria Menjadi Harapan Pertemuan Kakak dengan Sang Adik
Sebelum meninggalkan rumah, Samba Paria memohon izin membawa beberapa lembar daun peria kesayangannya, raja mengabulkan permintaan itu karena menganggapnya tidak berbahaya.
Sepanjang perjalanan menuju istana, Samba Paria merobek daun-daun peria lalu menebarkannya sebagai penanda jalan.
Ia berharap adiknya memahami jejak itu dan mengetahui ke mana dirinya dibawa, beberapa saat kemudian sang adik pulang dengan tubuh letih serta wadah air yang tetap kosong.
Ia terkejut mendapati rumah sunyi tanpa keberadaan kakaknya, pandangan matanya kemudian tertuju pada sobekan daun peria yang berserakan hingga ke jalan setapak.
Tanpa ragu, anak itu mengikuti jejak tersebut selama dua hari hingga akhirnya tiba di halaman istana, ia memanggil nama kakaknya berulang kali dengan suara yang semakin serak karena kelelahan.
Namun raja menyembunyikan Samba Paria di dalam kamar agar keduanya tidak dapat bertemu.
Bahkan ketika sang adik meminta melihat wajah, tangan, dan kaki kakaknya, raja hanya mempermainkannya menggunakan seekor kucing.
Dengan hati remuk, anak itu menanam sebatang pohon kelor di depan istana.
"Jika pohon ini layu, berarti aku sakit. Jika mati, berarti aku telah tiada," katanya sebelum pulang, dari balik jendela kamar, Samba Paria menangis tanpa mampu menjawab panggilan adiknya.
Artikel Terkait
MA Kabulkan Peninjauan Kembali PT Banggai Senteral Sulawesi, Ini Kata Direktur Muda!
Bandar Narkoba Hingga 3 Oknum Kades Terancam Diarak Warga, Hingga Sekcam Sidoan Angkat Bicara: Hukum Adat!
Polsek Moutong Rutin Patroli Pebatasan Gotontalo-Sulteng, Anggota Beri Imbauan Pengendara!
Kapolsek Ucapkan Selamat HUT TNI 79 ke Koramil 1306-11 Moutong!
PT SJA 1 Akan Lepas Lahan Untuk Warga Transmigrasi Desa Tontowea, Cek Jumlah Luasannya!
Himbauan Kamtibmas Kapolres Morowali Utara Selama Pilkada 2024!
Polsek Paleleh Gelar Operasi Pekat Tinombala 2024, Sararannya Miras Hingga Sabung!
Arahan Presiden Jelas Berantas Tambang Ilegal, Kapolda Sulteng Tegas Tekakan Hukum Bagi Pelaku!
Seskab Teddy Ungkap Prabowo Support Papua Nugini untuk Gabung ke ASEAN
Diduga Cemburu, Pemuda di Maros Dikeroyok Mantan Suami Pacar