Kezaliman raja juga tampak dari kebiasaannya mengambil gadis-gadis cantik untuk dijadikan permaisuri tanpa memedulikan kehendak mereka.
Meski telah memiliki tiga belas permaisuri, ia masih berambisi mengumpulkan empat puluh permaisuri sebagai lambang kesaktiannya.
Ramalan Seorang Nenek Bijaksana Mengubah Harapan Seluruh Penduduk Negeri
Di sebuah kampung lereng gunung tinggal seorang nenek yang dikenal bijaksana dan mampu membaca pertanda masa depan.
Banyak warga mendatanginya untuk meminta nasihat ketika harapan mereka mulai memudar akibat kekejaman sang raja, suatu hari sang nenek menyampaikan ramalan yang segera menyebar ke seluruh pelosok Bumi Mandar.
Menurut ramalannya, seorang gadis muda dari kalangan rakyat biasa akan mengakhiri kekuasaan raja yang zalim, ucapan itu menjadi secercah harapan bagi rakyat yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketakutan.
Sementara itu, tanpa diketahui siapa pun, sang raja justru mengalami mimpi yang mengusik pikirannya, dalam mimpi tersebut ia menemukan bunga yang sangat harum di tengah hutan tempatnya biasa berburu.
Seorang ahli nujum kerajaan menafsirkan bahwa bunga itu melambangkan seorang gadis cantik yang kelak menjadi permaisurinya.
Namun, sang ahli nujum juga memperingatkan bahwa gadis tersebut memiliki kekuatan yang kelak dapat menjadi ancaman bagi raja.
Ramalan itulah yang membuat raja semakin sering memasuki hutan untuk mencari gadis yang dimaksud.
Pertemuan di Tengah Rimba Mengubah Nasib Seorang Gadis Pemberani Selamanya
Jauh di pedalaman hutan, berdirilah sebuah rumah panggung sederhana yang hampir seluruh bagiannya diselimuti sulur tanaman peria.
Di rumah itu tinggal dua kakak beradik yatim piatu yang saling menjaga sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia.
Sang kakak bernama Samba, gadis berusia enam belas tahun yang dikenal lembut, rajin, dan berhati penuh kasih.
Karena rumahnya dipenuhi tanaman peria, masyarakat yang sesekali melewati kawasan itu menjulukinya Samba Paria, suatu siang mereka menikmati talas rebus sebagai santapan sederhana hasil kebun sendiri.
Ketika sepotong talas jatuh ke tanah, mereka membiarkannya karena sudah dianggap tidak layak dimakan.
Pada saat yang sama, rombongan raja sedang berburu bersama pengawal dan anjing-anjing pemburu di hutan itu.
Artikel Terkait
MA Kabulkan Peninjauan Kembali PT Banggai Senteral Sulawesi, Ini Kata Direktur Muda!
Bandar Narkoba Hingga 3 Oknum Kades Terancam Diarak Warga, Hingga Sekcam Sidoan Angkat Bicara: Hukum Adat!
Polsek Moutong Rutin Patroli Pebatasan Gotontalo-Sulteng, Anggota Beri Imbauan Pengendara!
Kapolsek Ucapkan Selamat HUT TNI 79 ke Koramil 1306-11 Moutong!
PT SJA 1 Akan Lepas Lahan Untuk Warga Transmigrasi Desa Tontowea, Cek Jumlah Luasannya!
Himbauan Kamtibmas Kapolres Morowali Utara Selama Pilkada 2024!
Polsek Paleleh Gelar Operasi Pekat Tinombala 2024, Sararannya Miras Hingga Sabung!
Arahan Presiden Jelas Berantas Tambang Ilegal, Kapolda Sulteng Tegas Tekakan Hukum Bagi Pelaku!
Seskab Teddy Ungkap Prabowo Support Papua Nugini untuk Gabung ke ASEAN
Diduga Cemburu, Pemuda di Maros Dikeroyok Mantan Suami Pacar