Beberapa saksi hidup yang menceritakan keadaan pasca gempa dan tsunami yang terjadi pada 8 Oktober 1950 [1]. Usia mereka berkisar 68 hingga 85 tahun saat wawancara diadakan pada medio Agustus 2015. Sebagian besar menceritakan ketika 3 kali gempa dengan guncangan disertai 3 kali suara gemuruh dan kemudian 3 gelombang tsunami yang merusak perumahan warga di 3 desa di Ambon. Desa yang terdampak yaitu Hutumuri, Hative Kecil dan Galala.
Menurut kesaksian warga, saat gelombang pertama datang tidak dengan skala kecil, kemudian diikuti gelombang kedua dengan intensitas sedikit lebih besar; dan gelombang ketiga terbesar dari dua gelombang sebelumnya. Karena keadaan geopolitik Ambon terkait efek konflik TNI dan RMS, warga lebih menetap di pegunungan dibanding di pesisir/daratan; warga beraktivitas sebagai petani dan pedagang di daratan/pesisir yang dilakukan pada siang hari. Pada waktu kejadian (hari minggu) warga yang sedang beraktivitas di gereja langsung keluar menyaksikan air naik turun dan kemudian lari ke gunung. Sebagian berlindung di atas pohon-pohon.
Selain gempa dan tsunami banda tahun 1674 dan 1950, gempa dan tsunami juga pernah terjadi pada tahun 1629 di Pulau Seram [2]. Catatan sejarah gempa berdasarkan kekuatan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) yang pernah terjadi di Maluku antara lain pada 28 Maret 1830 (VII-VIII MMI), 1 November 1835 (VII-IX MMI), 16 Desember 1841 (VII-VIII MMI), 26 November 1852 (VIII-IX), 27 Februari, 4 Juni, 9 November 1858 (VI MMI), 15 September 1862 (VI MMI), 28 Mei 1876 (VII MMI), 23 November 1890 (VII MMI), 17 Januari 1898 (VII MMI), 14 Februari 1903 (V MMI), Mei 1920 (VI MMI), 2 Februari 1938 (M 8,5).
Laut Banda Rawan Gempa
Laut Banda dan pulau-pulau di sekitarnya, khususnya Provinsi Maluku merupakan wilayah yang berada di pertemuan 3 lempeng yaitu lempeng Eurasia, Pasifik dan Australia. Pertemuan lempeng-lempeng tersebut menyebabkan intensitas kejadian gempa sangat aktif dan sangat rawan. Ahli gempabumi dan tsunami di dalam dan luar negeri telah melakukan berbagai penelitian gempa bumi dan tsunami di Laut Banda, Laut Seram dan Laut Maluku Utara dan Kepulauan di Maluku.
BMKG, bersama Universitas Hasanuddin telah melakukan penelitian sumber gempa bumi Maluku atas dasar catatan sejarah gempa bumi dan tsunami, kondisi geoteknologi dan geografis kepulauan di Maluku [4]. Pulau Seram dan sekitarnya teridentifikasi memiliki pergerakan aktif sesar strike-slip sebagai akibat dari “Banda Opening” secara ekstensional.
Saat ini lempeng di wilayah tersebut sudah mencapai “Weber Deep” di mana jejak mundur ekstensionalnya berpotensi menghasilkan strike-slip. Berdasarkan kajian terkini, salah satu segmen lempengnya ditengarai berada di sekitar Pulau Ambon; di mana Banda opening crust telah membentuk oceanic crust dan terus melebar hingga Weber Deep1.
Ada potensi besar gempa tektonik dalam skala besar di Pulau Seram dan sekitarnya, namun segmen-segmen yang ada membentuk dilatasi sebagai media pelepasan energinya. Kondisi ini menyebabkan wilayah tersebut tak pernah sepi akan kejadian gempabumi. Bila mencermati mekanisme sumber gempanya, Pulau Seram dan sekitarnya merupakan zona sesar strike-slip sebagai akibat detachment atau bergesernya lempeng dan sangat mungkin sesar naik juga ada. Ini tercermin dari data-data mekanisme sumber gempa bumi sebelumnya. Namun secara keseluruhan wilayah itu merupakan zona potensi sesar geser.
Terdapat 55 kejadian gempa bumi kuat (signifikan) sejak 1976 termasuk 26 September 2019 dalam rentang magnitudo 6.5–7.5. Bila menilik sejarah banyaknya catatan gempa bumi kuat berkedalaman kurang dari 70 km, maka zona Banda opening merupakan kawasan sangat rawan gempa bumi dan tsunami yang patut diwaspadai di wilayah timur Indonesia (Gambar 3).
Gambar 3. Peta Seismisitas Laut Banda 2009 - 2018
Kejadian gempabumi magnitudo 6.82 pada tanggal 26 September 2019 pukul 06.46.45 WIB bersumber dari koordinat 3.38 LS dan 128.43 BT; atau 40 km timur laut Ambon–Maluku dengan kedalaman 10 km. Gempa melanda Kota Ambon, Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat yang mengakibatkan 41 jiwa meninggal dunia, 1.602 luka-luka, dan 230.000 lebih orang mengungsi. Selain berdampak korban, gempa juga mengakibatkan lebih dari 12.000 rumah dan 500 fasilitas umum serta fasilitas sosial terdampak.
Hasil analisis pemodelan gempa bumi menunjukkan mekanisme sumber gempa bumi berupa sesar geser (strike-slip). Pemodelan berdasarkan data tomografi menunjukkan kedalaman lempeng menunjam hingga 1.200 km. Bila ditarik garis vertikal, Zona Benioff berada di Teluk Bone atau diperkirakan di bawah Latimojong. Zona Benioff merupakan zona planar dari kegempaan yang terkait dengan lempeng yang menurun di zona subduksi (Gambar 4).
Secara eksponensial, jejak slab yang sekaligus dipengaruhi Lempeng Pasifik di utara dan Lempeng Australia yang telah kolisi dengan Papua. Mau tak mau jejak slab yang terus mundur tertahan di Weber Deep. Kondisi ini mengakibatkan aktifnya strike-slip di Segmen Ambon-Seram. Demikian pula aktifitas Pasifik ke arah barat-barat daya menjadi penyebab aktifnya pola strike-slip.
44% Gempa Tahun 2019 Terjadi di Maluku