SulbarEkspres – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin anjlok dan melemah.
Dalam sesi perdagangan hari Kamis 2 Oktober 2022, nilai tukar rupiah semakin menurun dari hari-hari sebelumnya.
Baca Juga: Gangguan Ginjal Akut Misterius Semakin Meningkat, Kemenkes : Apotek Setop Jual Obat Sirup
Rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp15.581 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.572 per dolar AS.
Adapun indeks dolar AS tercatat naik 0,08 persen menjadi 112,97 saat ini.
Ekspektasi suku bunga acuan yang lebih tinggi, telah mengirim imbal hasil AS dan dolar lebih tinggi.
Terutama terhadap mata uang yen karena Bank Sentral Jepang (BoJ) berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol.
Kemudian mata uang AS menguat melampaui level simbolis 150 yen untuk pertama kalinya sejak 1990 pada akhir perdagangan pada Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB.
Sementara itu, pembuat kebijakan Jepang membuat ancaman intervensi baru dan terlihat lebih mungkin untuk melakukan intervensi jika pergerakan mata uang menjadi lebih tidak menentu.
Yen merosot tajam dari tertinggi interim 150,09 yang dicapai dalam perdagangan semalam, jatuh ke 149,63 dalam satu menit, akibat kemungkinan langkah intervensi itu.
Adapun indeks dolar AS tercatat naik 0,08 persen menjadi 112,97 saat ini. Ekspektasi suku bunga acuan yang lebih tinggi, telah mengirim imbal hasil AS dan dolar lebih tinggi.
Terutama terhadap mata uang yen karena Bank Sentral Jepang (BoJ) berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol.
Kemudian mata uang AS menguat melampaui level simbolis 150 yen untuk pertama kalinya sejak 1990 pada akhir perdagangan pada Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB.
Sementara itu, pembuat kebijakan Jepang membuat ancaman intervensi baru dan terlihat lebih mungkin untuk melakukan intervensi jika pergerakan mata uang menjadi lebih tidak menentu.
Yen merosot tajam dari tertinggi interim 150,09 yang dicapai dalam perdagangan semalam, jatuh ke 149,63 dalam satu menit, akibat kemungkinan langkah intervensi itu.***