"Dari situ aku mulai bisa buka facebook, akhirnya bisa ketemu sama manajerku lama. Itu kita sampe nangis bertiga di depan makan nasi padang. Padahal zaman dulu tuh kita kalau makan di restoran bill 7 juta, 12 juta kalau zaman dulu," sambung Ressa.
Berbeda dengan Aji Yusman yang merasakan rentetan cobaan sejak 2010 hingga 2019. Awalnya, sang ibunda terkena stroke. Kemudian sang ayah terkena kanker.
"Dari 2010 sampai 2019 pas masuk pandemi, dimana titik uang lu abis paling banyak akhirnya?" tanya Denny Sumargo.
"Perjalanan dari tengah menuju akhir, cancer terus pemasukan engga ada sama sekali. Gua engga tahu ya intinya habisnya di titik dua itu bro. Karena ada dimana titik satu tahun full engga ada uang masuk," ucapnya.
Kondisi ekonomi Aji Yusman semakin parah di era pandemi namun tetap berusaha memberikan yang terbaik hingga akhirnya Aji rela menjual barang-barang miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup mulai dari rumah hingga kendaraan.
"Awal rumah (dijual). Tiba pada saat masuk pandemi itu memang kita abis kongsi untuk mendirikan salah satu PT kita sendiri (banyak keluar uang). Itu engga jalan, satu tahun engga income sama sekali, mobil lepas bro. Terus motor bro lepas. Ada satu motor lagi, lepas," ucap Aji Yusman.
"Sisa apa tuh?" tanya Denny Sumargo.
"Engga ada, kaki," jawab Aji Yusman.
Aji Yusman pun kini rela tinggal di kontrakan dengan kehidupannya yang jauh berbalik 180 derajat dari dulu yang punya segalanya.
"Jadi lu tinggal dimana sekarang?" tanya Denny Sumargo.
"Ngontrak. Tadinya masih oke fine di apartement lah, masih mampu pada saat itu, pindah ke kontrakan yang Rp2,8 (juta), turun lagi 2,2, turun lagi 1,8, turun lagi 1,3, 1 juta dan Rp600 ribu," jawab Aji Yusman dalam podcast bersama Denny Sumargo.***